Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Oleh: Selamet Castur
CEO Swa Indonesia
Istilah Santri Kiri kini muncul kembali. Istilah tersebut pernah menjadi bagan struktur sosial civil society pada masa pergerakan dekolonialisasi (pra-kemerdekaan). Kemudian, istilah tersebut kembali populer sekitar tahun 2000-an karena pengaruh pemikiran besar teologi Hasan Hanafi (Mesir, 1935–2021), terkait Islam Kiri, yang karyanya dimuat dalam jurnal ilmiah bernama al-Yasār al-Islāmī (Kiri Islam), Mādhā Ya‘nī al-Yasār al-Islāmī (1981), serta adikarya trilogi pemikirannya yang dikenal sebagai proyek Al-Turath wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan).
Ekosistem Yakuza Maneges
Organisasi sosial dan spiritual Yakuza Maneges ini didirikan oleh tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) asal Kediri, Den Gus Thuba Topo Broto Maneges (Gus Thuba), yang merupakan putra Gus Robert (Kiai Tijani Robert Saifunnawas). Ia juga cucu ulama besar KH Hamim Thohari Djazuli atau Gus Miek, dan masih memiliki garis keturunan dengan KH Ahmad Shiddiq (tokoh NU Jember).
Penamaan Yakuza merupakan akronim dari “Yang Asalnya Kotor, Ujungnya Zuhud Abadi”. Sementara itu, “Maneges”, yang diambil dari nama Gus Thuba, memiliki tafsir perjalanan perilaku batin untuk mendapatkan kejelasan makna hidup sehingga mampu mengenal kembali hakikat diri di tengah alam semesta. Dalam kisah Pandawa, istilah Maneges biasanya menggambarkan sikap para kesatria melakukan semedhi untuk memohon petunjuk langsung dari Sang Pencipta.
Secara struktural, jalur kiri yang menjadi arah organisasi Yakuza Maneges ini tidak memiliki hubungan intelektual maupun ideologis dengan pemikiran Hasan Hanafi, Islam Kiri. Meski demikian, secara praksis, pergerakan Yakuza Maneges memiliki titik temu dalam arah perjuangan, yakni membangun gerakan inklusif yang berpihak pada kaum marginal, membangun solidaritas akar rumput, serta melakukan penyadaran terhadap masyarakat jalanan hingga mantan narapidana yang ingin memperbaiki diri.
se
Pada perkembangannya, proses transformasi Yakuza Maneges kini telah menampakkan eksistensinya sebagai organisasi santri kiri progresif yang mengusung pendekatan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, yang diklaim melanjutkan metode dakwah sang kakek, KH Hamim Jazuli (Gus Miek). Prioritas utamanya adalah melakukan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual serta pemberantasan tindak asusila, khususnya yang terjadi di pesantren melalui proses penegakan hukum.
Yakuza Maneges menilai ada beberapa skandal kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum pimpinan dan pengasuh pesantren yang sulit dibongkar melalui proses hukum karena adanya pengaruh relasi kuasa. Kemudian, Yakuza Maneges hadir mendobrak status quo tersebut dengan membela hak-hak korban, melawan tirani kuasa yang menjadi tabir gelap proses pengungkapan kebenaran melalui langkah hukum secara adil dan transparan.

















