Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
[Tulisan ini hanya refleksi ketegangan hubungan Muhammadiyah dan NU di Sampang dan Kasembon]
Swa News – Pagi itu Kang Bejo bertutur, bilangnya dulu pernah ada peristiwa persinggungan tradisi antara Kyai Haji Muhammad Faqih Maskumambang dengan Kyai Hasyim Asy’ari terkait pandangan dalam pengamalan tradisi kentongan di pesantren masing-masing.
Konon, Kyai Muhammad Faqih Maskumambang menyuruh santrinya menggunakan kentongan untuk penanda waktu sholat, sementara Kyai Hasyim Asy’ari melarangnya.
Namun, pada suatu ketika Kyai Hasyim berkunjung ke pesantren Kyai Maskumambang, namun di saat masih ada Kyai Hasyim Asy’ari maka Kyai Faqih Maskumambang melarang para santrinya memukul kentongan.
Begitu pun pada saat Kyai Maskumambang berkunjung ke pesantren Kyai Hasyim Asy’ari, seketika itu pula Kyai Hasyim menyuruh santrinya untuk menabuh kentongan sebagai petanda penghormatan atas kehadirannya.
Karena peristiwa tersebut, pada suatu kesempatan santrinya bertanya pada kedua Kyai kharismatik itu, tapi keduanya hanya bilang, kita itu harus bisa menghargai dan menghormati tradisi yang dikembangkan masing-masing dalam menyiarkan ajaran Islam.
Persoalan kentongan adalah persoalan simbolik, bukan problem esensial dalam Islam. Tapi dari narasi budaya kentongan tadi, setidaknya ada ruang yang dapat menjelaskan pada kita, hubungan antara hakikat keberagamaan dan wujud ekspresi budaya beragama.

Pada hakikatnya Islam bagi manusia adalah sebuah proses pendakian menuju puncak spiritualitas ketuhanan melalui usaha kemanusiaan. Sedangkan ekspresi budaya keberagamaan merupakan wujud ikhtiar manusia mencari jalan yang tepat, jalan yang diyakini memiliki makna kebenaran dalam proses pendakian menuju hakikat Tuhan tersebut.
Tapi sayang, sekarang kita sering kehilangan adab kemanusiaan dalam mengekspresikan identitas kolektif ‘Islam’. Bahkan dalam interaksi sosial antarumat Islam kita sehari-hari kita juga sering menampilkan wajah kemurkaan dan amarah.
Kita sudah sering kehilangan kemuliaan Islam kita sendiri. Kita sering melakukan tindak kekerasan atas nama kebenaran pada saat kita bersama-sama juga sedang mencari jalan kebenaran.
Kelihatannya kita sudah kehilangan keseimbangan akal sehat, sudah takabur, melebihi pandangan semitisme kaum Yahudi, kita sudah merasa paling benar dan yang lain salah.
Pada kesimpulannya, kita sudah kehilangan keagungan identitas kebudayaan santri, saatnya untuk kembali menabuh kentongan sebagai penanda peringatan darurat hilangnya tata nilai, etika, dan moral dalam beragama.

















