Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Penulis: Selamet Castur
CEO Swa Indonesia
Swa News – Saat ini banyak orang penasaran terkait terbitnya buku Islam Ala Prabowo. Apalagi, kemudian yang menerbitkan buku tersebut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Rupanya, buku Islam Ala Prabowo bukanlah hasil karya tulis Prabowo. Bahkan, dalam buku tersebut sama sekali tidak ada hasil tulisan Prabowo Subianto, melainkan hanya kumpulan tulisan beberapa orang yang dekat dan berada dalam lingkaran Prabowo Subianto sendiri.
Semenarik apa sih sebenarnya isi buku tersebut? Ternyata, lebih menarik respons publik di media sosial yang banyak mengulas peluncuran buku Islam Ala Prabowo yang terkesan liar ketimbang isinya.
Jika kita baca, buku tersebut lebih banyak mengulas cara pandang dan kebijakan pragmatis Prabowo dalam berbagai situasi sosial, politik, dan ekonomi yang kemudian dipaksa masuk ke dalam ruang ekspresi keislaman personal. Konteks ini bisa dibaca dalam salah satu tulisan mantan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra yang saat ini menduduki Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang dalam prolog Islam Ala Prabowo, Integrasi Spiritualitas dan Visi Pembaharuan untuk Indonesia Raya, yang berupaya menceritakan kembali kilas balik soal Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menceritakan, sesungguhnya gagasan MBG itu sudah lama menjadi perhatian Prabowo sebelum mendirikan Partai Gerindra. Katanya, karena Prabowo merasa prihatin melihat problem pertumbuhan jasmani anak Indonesia yang cenderung kecil karena kurangnya kebiasaan minum susu.
Awalnya, Prabowo menggagas hanya untuk memberikan anak-anak sekolah minuman susu segar setiap hari. Tapi, kemudian gagasan ini berkembang, tidak hanya sekadar memberikan minuman susu, tetapi diperluas menjadi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Akhirnya, berbagai tulisan yang serba Islam ini, pada satu sisi melihat cara pandang penulis yang akomodatif dan inklusif, namun pada sisi lain juga memberikan kesan Islam dalam ruang tambal sulam politik identitas.

















