Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Sumenep, Swa News— Penetapan juara Festival Karnaval Unik bertema “Daur Ulang, Selamatkan Lingkungan” di Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep, menuai polemik. Pihak SMA Muhammadiyah 4 Gayam mempertanyakan dasar penilaian juri dan konsistensi panitia dalam menerapkan hasil technical meeting pada pelaksanaan karnaval (30/8/2026).

Keberatan tersebut disampaikan dalam pertemuan klarifikasi di Pendopo Kecamatan Gayam, Senin (31/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Dihadiri perwakilan SMA Muhammadiyah, Ketua dan Sekretaris Panitia Induk Kecamatan.
Baca juga: Peternakan Ayam di Jalan Metro Kota Batu Alami Kebakaran Hebat
Pembina sekaligus koordinator karnaval SMA Muhammadiyah 4 Gayam, Ilham menilai hasil penetapan juara sarat kontroversi. Ia bahkan mempertanyakan kompetensi serta kredibilitas juri setelah diketahui bahwa juri yang ditunjuk bukan berasal dari kalangan ahli seni, budaya maupun sastra.
Padahal, menurut Ilham, konsep yang ditampilkan SMA Muhammadiyah 4 Gayam tidak sekadar mengandalkan kostum. Mereka mengusung konsep daur ulang secara serius, mulai dari robot yang dibuat dari bahan hasil meminta dan mengumpulkan dari toko-toko, mesin pembajak sawah dari bambu tidak terpakai dan kardus, hingga teatrikal serta Jurik yang disebut sarat makna dan filosofi.
“Kalau hanya sekadar kostum, lembaga kami tidak kalah. Kami punya semua itu, baik jumlah maupun kualitas. Tapi yang kami miliki seperti teatrikal, Jurik, robot dan mesin pembajak dengan segala kualitasnya, tidak mereka miliki,” ujarnya.
Ilham juga mempertanyakan rendahnya nilai kreativitas yang diberikan kepada kelompoknya, terlebih antusiasme penonton disebut sangat tinggi dengan tepuk tangan dan apresiasi sepanjang penampilan.
“Penonton saja antusias memberikan tepuk tangan dan apresiasi. Masa juri dan panitia tidak bisa melihat itu?” imbuhnya.
ilham menyampaikan pihak SMA Muhammadiyah 4 Gayam juga mempersoalan konsistensi penerapan aturan yang telah disepakati dalam technical meeting. Mulai dari peserta yang mengusung konsep campuran dengan pakaian adat ditetapkan sebagai juara. Bahkan ada pemenang lomba yang melanggar beberapa aturan seperti pendamping lebih dari dua orang serta larangan menerima saweran.
“Yang kami persoalkan bukan sekadar juara. Kami mempertanyakan bagaimana kreativitas dinilai, bagaimana aturan diterapkan, dan bagaimana juri yang tidak memiliki latar belakang seni, budaya atau sastra bisa menilai karya yang di dalamnya terdapat teatrikal, filosofi dan konsep seni,” tegas Ilham.
Tanggapan Panitia Soal Keberatan SMA Muhammadiyah 4 Gayam
Ketua Panitia Induk Kecamatan, Agus tidak membantah bahwa penampilan SMA Muhammadiyah memiliki nilai seni dan filosofi yang kuat. Ia juga mengakui penampilan tersebut sarat filosofi dan memiliki nilai seni tinggi, namun kemungkinan juri tidak sampai pada tingkat pengetahuan tersebut. Pihak panitia juga dengan tangan terbuka menerima keluhan tersebut.
“Kami selaku panitia menerima penyampaian keberatan dari SMA Muhammadiyah 4 Gayam, semoga ada titik terang terkait masalah ini,” Jelasnya. (FD)
Kontributor: Feri Djadmiko
Editor: Mukh. Munif

















