Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jakarta, Swa News – Hari ini, 21 tahun yang lalu, tepatnya pada Senin, 29 Agustus 2005, pukul 14.05 WIB, seorang cendekiawan muslim Indonesia, guru bangsa, penggerak pro-demokrasi yang amat dihormati dan dijadikan teladan, Nurcholish Madjid, meninggalkan kita.
Salah satu jasa terbesarnya adalah warisan pemikiran yang menjadikan hubungan antara negara, agama, dan civil society menjadi lebih cair.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Mohammad Mahfud memberikan orasi budaya dengan tema “Meluruskan Kepemimpinan Nasional” yang dinilai sangat mencerahkan.

Ibu Omi Komaria Madjid juga memberikan sambutan yang sangat menyentuh. Penyair Ahmad Gaus GF membacakan puisi panjang dan selawat yang sangat indah.
Para murid almarhum, yaitu Prof. Komaruddin Hidayat, Gubernur Lemhanas Dr. Ace, dan Dr. Eep Saefullah, memberikan testimoni tentang pentingnya pemikiran Cak Nur bagi Indonesia dan dunia.

Acara yang berlangsung dengan suasana penuh kehangatan dan menyentuh tersebut dihadiri oleh begitu banyak undangan.
Pada kesempatan tersebut, turut dibagikan buku karya Nasir Tamara tentang Revolusi Iran kepada para anggota Nurcholish Madjid Society. (AR)
Penulis: Abdurrahman
Editor: Imam

















