Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
JOMBANG, Swa News – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama mencapai titik klimaks. Akhirnya, benar KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit KH Hasyim Asy’ari, terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 melalui kesepakatan Ahlul Halli wal ‘Aqdi yang beranggotakan sembilan kiai sepuh.
Sosok Gus Kikin
Abdul Hakim Mahfudz, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Kikin, lahir di Ponpes Sunan Ampel, Jombang, pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum.
Dari garis ibu, Gus Kikin merupakan cicit KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU, karena Abidah Ma’shum merupakan anak dari Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hasyim Asy’ari.
Sedangkan ayahnya, Mahfudz Anwar (12 April 1912–20 Mei 1999), merupakan putra KH Anwar Alwi. Sebelum mendirikan Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang, Mahfudz juga pernah memimpin Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang, yang didirikan oleh guru sekaligus mertuanya, KH Ma’shum Ali, yang wafat pada 1933.
Pendidikan
Gus Kikin pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Ampel. Namun, Gus Kikin juga pernah belajar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang, yang didirikan oleh kakeknya.
Gus Kikin menempuh pendidikan formal di Madrasah Ibtida’iyah Parimono pada 1963–1970. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Jombang pada 1971–1973, kemudian SMA Negeri 2 Jombang pada 1974–1977.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas, Gus Kikin melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta pada 1975–1979. Kemudian, pada 2013, Gus Kikin melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka (UT).
Karier Bisnis
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta dan menempuh praktik pelayaran selama tiga tahun, Gus Kikin kemudian menjadi pegawai di Djakarta Lloyd pada 1988. Lantas, ia menjabat sebagai kepala Djakarta Lloyd cabang Kota Cilegon.
Pada 1998, Gus Kikin mendirikan lima perusahaan, antara lain Bama Buana Sakti di bidang transportasi, Bama Bhakti Samudra di bidang pelayaran, Bama Bumi Sentosa di bidang kontraktor migas, Bama Bali Sejahtera di bidang teknologi informasi, dan Bama Berita Sarana di bidang media televisi. Hingga kini, perusahaan yang didirikan Gus Kikin berjumlah 22 perusahaan.
Kembali ke Pesantren
Pada 2016, Gus Kikin dipercaya menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Setelah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) wafat pada 2020, Gus Kikin kemudian dipercaya memimpin pesantren sebagai pengasuh.
Nakhoda PBNU
Di tengah hiruk-pikuk Muktamar NU ke-35 di Jombang, sosok Gus Kikin telah mendapat perhatian luas. Sebelum diputuskan melalui AHWA, keterpilihan Gus Kikin sendiri memiliki legitimasi yang kuat dan sangat signifikan, dengan perolehan suara tertinggi di antara calon lain, yakni 472 suara.
Bahkan, sebelum terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Kikin sudah memiliki pengalaman panjang dalam struktur kepengurusan NU. Selama 14 tahun, ia pernah menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, kemudian menjadi pelaksana Ketua PWNU, dan selanjutnya menjadi Ketua definitif PWNU Jawa Timur.
Bagi Gus Kikin, keterpilihannya memiliki visi untuk mengembalikan akar perjuangan NU dengan memperkuat Qanun Asasi yang dirumuskan KH Hasyim Asy’ari.
Penulis: Redaksi
Editor: Imam Abu Hanifaj


















