Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
[Tulisan ini hanya ekspresi kritik sastra dan sekadar urun rembug untuk memaknai kembali fenomena kekinian adanya perebutan kuasa kebenaran (truth claim) dalam tafsir agama]
Swa News – Realitas Islam agama dan Islam budaya sering menghadapi pergulatan psikologis. Bahkan, secara antropologis maupun sosiologis juga sering menghadapi keterbelahan antara hakikat nilai agama langit (das sollen) dan ruang ekspresi keberagamaan di bumi (das sein).
Kita sering memahami Islam itu ada pada altar suci, dalam kubah ritualitas. Padahal, pada saat yang sama, tidak jarang perilaku sosial keberagamaan kita sering bertolak belakang dari nilai spiritualitas Islam itu sendiri.
Karena kerumitan problem psikologis yang ada dalam setiap segmentasi sosial tersebut, kemudian kini saya menempatkan posisi kritik ini berdasar pada metode berpikir gothak gathuk mathuk yang bersumber dari berbagai karya sastra klasik yang menggambarkan dialektika identitas Islam.
Seperti dari ujaran yang terdapat dalam Serat Centini, Dharmogandhul dan Serat Gatholoco. Ketiganya merupakan karya sastra yang menggambarkan nuansa dilematik kebudayaan Islam Jawa abad 19 kala itu.
Jika karya sastra tersebut dibaca sekilas tanpa mempertimbangkan menjadi bahan analisis simbolik antropologi maupun sosiologi berdasar ajaran ‘manunggaling kawulo gusti‘ dan ‘sangkan paraning dumadi‘, memang hanya nampak bernarasi simbolik seksual semata.
Apalagi pemaknaannya juga sekilas membuat kekacauan nilai doktrin dan syariat Islam. Tapi, kalau kita gunakan sebagai dasar analisis simbolik, maka secara implisit ditemukan kerangka kritik hubungan Islam Allah (das sollen) dan Islam manusia (das sein) meski banyak menggunakan dialek bahasa di luar ‘common sense‘ Islam.
Misal, kaitan yang secara terbuka karya-karya tersebut mengintrodusir ekspresi desakralitas simbol agama. Kaitan itu bisa ditemukan ketika memaknai kata Muhammad dengan makam (kuburan), Rasulullah menjadi rasalah (tidak salah), wali menjadi walikan (kebalikan).
Barangkali kita dapat menarik benang merah, jika kritik karya-karya sastra tersebut merupakan bentuk penguraian keadaan yang selama ini banyak ruang ekspresi keberagamaan yang secara masif telah menyandera eksistensi Allah, eksistensi Muhammad, meski dengan berbagai varian cara yang berbeda.
Tapi intinya hampir semua ruang ekspresi itu hanya untuk memenuhi absurditas makna serta menjadi alat justifikasi kepentingan personal dan kolektif semata.*


















