Minggu, Juni 21, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Mengapa Kita Selalu Kalah? “Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali”

Peter F Gontha by Peter F Gontha
24/05/2025
in Ekonomi, Kolom, Opini
1
0
SHARES
100
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp
Logo SWA Indonesia

Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com

Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.

✨ Jangkauan Nasional ✍️ Personal Branding 🤝 Komunitas Intelektual
Gabung Kolumnis Kirim Naskah Artikel

Mengapa Kita Selalu Kalah?

“Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali”

Oleh: Peter F. Gontha

Mengapa Singapura, Malaysia, dan Thailand—tetangga kita, yang katanya sejajar—terus melaju ke depan, sementara kita hanya duduk, menonton, dan bertepuk tangan dari pinggir lapangan?

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

Sulthonul Arifin, Meranggi Keris Demi Menjaga Napas Pusaka Nusantara

Sulthonul Arifin, Meranggi Keris Demi Menjaga Napas Pusaka Nusantara

18/06/2026
Genjot PAD Sektor Pasar, Revitalisasi 4 Pasar Rakyat Jadi Prioritas Anggaran 2027

Genjot PAD Sektor Pasar, Revitalisasi 4 Pasar Rakyat Jadi Prioritas Anggaran 2027

16/06/2026
Load More

Mengapa Kita Selalu Kalah? "Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali"

Selalu kalah

Mengapa setiap konser global besar, pengobatan medis kelas dunia, ajang olahraga internasional, atau fasilitas berkelas selalu ada di sana, tapi tidak pernah di sini?

Ketika Coldplay tampil tujuh malam di Singapura, puluhan ribu orang Indonesia terbang ke sana. Ketika Formula One melaju di Marina Bay, kita bersorak—bukan dari Jakarta atau Sentul—tapi dari tribun di Singapura. Ketika Taylor Swift, ikon musik paling berpengaruh saat ini, menggelar konser berturut-turut yang selalu penuh di Singapura, para Swifties Indonesia berebut tiket, memenuhi pesawat, dan membanjiri hotel-hotel.

Uang kita, rakyat kita, antusiasme kita—semuanya mengalir ke luar. Tidak pernah ke dalam.

Ketika yang membikin even Formula E, justru banyak yang membabi buta menggergaji kegiatan tersebut!

Bahkan, untuk pemeriksaan kesehatan rutin saja, kita pergi ke Penang atau Bangkok. Pengobatan kanker? Ke Gleneagles atau Bumrungrad. Operasi kosmetik? Ke Kuala Lumpur atau Phuket. Mengapa bukan di Jakarta? Mengapa bukan di Surabaya atau Bali?

Mari kita tarik lebih jauh. Singapura punya kasino. Malaysia, negara dengan mayoritas Muslim, punya kasino legal di Genting Highlands. Sementara kita berpura-pura seolah perjudian tidak ada di sini. Padahal, judi online berkembang pesat di depan mata.

Baca Juga: Prof Uril Bahrudin Dinilai Layak Perkuat Kerjasama UIN Maliki dengan Saudi Fund for Development

Selalu kalah

Di Bali, banyak tempat perjudian tersembunyi yang dilindungi oleh “kekuatan lokal,” tapi kita terus mempertahankan wajah moral seolah-olah suci, sementara kita kehilangan miliaran dolar devisa. Semua itu hilang—terbang bersama rakyat kita dan uang mereka.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: mengapa kita kalah? Mengapa kita selalu hampir, tapi tak pernah sampai? Jawabannya bukan misteri. Bahkan tidak rumit. Kita tidak serius!

Birokrasi kita adalah labirin perizinan yang dipenuhi inefisiensi, rente, dan ketidakpastian. Pemimpin kita reaktif, bukan proaktif. Kita terlalu sibuk bermain sandiwara moral sampai lupa pada realitas ekonomi.

Mengapa Kita Selalu Kalah? "Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali"

Selalu kalah

Pemerintah hanya mendukung proyek-proyek visioner jika ada keuntungan politik. Investor diperlakukan dengan curiga, bukan dengan sambutan. Aturan berubah di tengah jalan. Kemitraan mati dalam rapat-rapat tanpa akhir. Inisiatif publik-swasta tenggelam dalam tumpukan administrasi.

Dan yang paling parah: kita takut perubahan. Kita melindungi sistem usang. Kita terobsesi pada kontrol. Kita takut kehilangan muka. Kita politisasi segalanya—dari hiburan, kesehatan, sampai infrastruktur. Sementara kawasan lain bermain untuk menang.

Singapura hanyalah pulau kecil tanpa sumber daya alam. Malaysia punya keragaman budaya, etnis, dan agama yang sama kompleksnya dengan kita. Thailand lebih sering kudeta daripada pemilu. Tapi mereka berhasil melakukan hal-hal yang masih kita anggap mimpi. Kita sebaliknya, seperti raksasa tidur yang menolak untuk bangun.

Kita punya talenta. Kita punya kekayaan alam. Kita punya skala. Tapi kita tidak punya visi yang jelas. Kita tidak melayani rakyat. Kita hanya mengelola, tapi tidak memimpin. Kita patuh pada aturan—tanpa pernah bertanya apakah aturan itu dibuat untuk kemajuan atau justru untuk kebuntuan.

Jika kita ingin berhenti kalah, saatnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan. Saatnya bersikap jujur secara brutal.

Apa sebenarnya prioritas kita? Mengapa kita takut pada keterbukaan? Kapan kita berhenti takut untuk menang?

Kalau ini tidak kita benahi sekarang, kita bukan hanya akan terus kehilangan event-event besar. Kita akan kehilangan rakyat kita. Masa depan kita. Dan tempat kita di dunia.

Selalu kalah


Peter F. Gontha

mantan Duta Besar RI untuk Polandia, pengusaha, musisi, dan pemerhati sosial-ekonomi

Tags: bangun IndonesiaInefisiensiPeter f GonthaRenteSelalu Kalah
Peter F Gontha

Peter F Gontha

mantan Duta Besar RI untuk Polandia, pengusaha, musisi, dan pemerhati sosial-ekonomi

Related Posts

Sulthonul Arifin, Meranggi Keris Demi Menjaga Napas Pusaka Nusantara
Seni dan Budaya

Sulthonul Arifin, Meranggi Keris Demi Menjaga Napas Pusaka Nusantara

by Mukhamad Munif
18/06/2026
Genjot PAD Sektor Pasar, Revitalisasi 4 Pasar Rakyat Jadi Prioritas Anggaran 2027
Ekonomi

Genjot PAD Sektor Pasar, Revitalisasi 4 Pasar Rakyat Jadi Prioritas Anggaran 2027

by Mukhamad Munif
16/06/2026
Kinerja PT BPR Artha Kanjuruhan Dapat Apresiasi Sekda Malang, Dorong Pemulihan Ekonomi Daerah
Jawa Timur

Kinerja PT BPR Artha Kanjuruhan Dapat Apresiasi Sekda Malang, Dorong Pemulihan Ekonomi Daerah

by Mukhamad Munif
12/06/2026
Rupiah Menguat 17 Ribu, Ancaman Badai PHK Massal akan Mereda?
Ekonomi

Rupiah Menguat 17 Ribu, Ancaman Badai PHK Massal akan Mereda?

by Mukhamad Munif
12/06/2026
Miris! Dolar Meroket Tak Dongkrak Kunjungan Wisman di Kota Batu, Bukan Untung Malah Buntung
Wisata dan Kuliner

Miris! Dolar Meroket Tak Dongkrak Kunjungan Wisman di Kota Batu, Bukan Untung Malah Buntung

by Mukhamad Munif
09/06/2026
Upaya Redam Gejolak Rupiah, Menkeu Purbaya Siap Sambangi China dan Inggris
Ekonomi

Upaya Redam Gejolak Rupiah, Menkeu Purbaya Siap Sambangi China dan Inggris

by Mukhamad Munif
09/06/2026
Next Post
Membangun Generasi Ulul Albab di UIN Maliki Malang: Antara Strategi dan Implementasi

Membangun Generasi Ulul Albab di UIN Maliki Malang: Antara Strategi dan Implementasi

Comments 1

  1. Ping-balik: Heboh ! BEM KM UGM Nyatakan Mosi Tidak Percaya Kepada Rektor Ova Emilia Swa News

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

15/03/2026
Jurusan sepi peminat di UPN

Pasti Lulus! Ini 15 Jurusan Sepi Peminat di UPN Jatim SNBT 2026

30/03/2026
Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

15/04/2026
Sosok Amithya, Ketua DPRD yang Berani Tolak Program MBG dan Kopdes Merah Putih di Kota Malang

Sosok Amithya, Ketua DPRD yang Berani Tolak Program MBG dan Kopdes Merah Putih di Kota Malang

16/06/2026
Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

14/11/2025

EDITOR'S PICK

Tuntutan Mahasiswa Aksi Indonesia Gelap di DPRD Jatim, 5 Mahasiswa Ditangkap!

Tuntutan Mahasiswa Aksi Indonesia Gelap di DPRD Jatim, 5 Mahasiswa Ditangkap!

18/02/2025
HUT ke-112 Kota Malang, Sam Anas Soroti Minimnya Kolaborasi dan PR Perkotaan yang Belum Tuntas

HUT ke-112 Kota Malang, Sam Anas Soroti Minimnya Kolaborasi dan PR Perkotaan yang Belum Tuntas

01/04/2026
Cuaca Kota Malang 29 Maret 2026

Prakiraan Cuaca Kota Malang 29 Maret 2026: Update Hari Ini

28/03/2026
Penting ! Prof. Uril Menggagas Visi Rektor Era Post-Truth: Butuh Pola Kepemimpinan Sistemik dan Progresif

Penting ! Prof. Uril Menggagas Visi Rektor Era Post-Truth: Butuh Pola Kepemimpinan Sistemik dan Progresif

28/05/2025
logo swanews

© 2026 Swa News Indonesia

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan