Batu, Swa News– Luas lahan apel di Kota Batu Jawa Timur berkurang lebih dari 350 hektare dalam dua tahun terakhir. Jika penurunan tersebut terus terjadi, maka ikon Apel Kota Batu akan tinggal nama saja (29/04/2026).

Diketahui pada masa kejayaannya di era 1980-an, kebun apel di Kota Batu mencapai sekitar 3.000 hektare.
Data terbaru Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu menunjukkan pada 2022, luas kebun apel masih tercatat 1.092 hektare. Kemudian pada 2023 menyusut menjadi sekitar 823,33 hektare. Lalu kembali turun pada akhir 2024 menjadi hanya 740,07 hektare.
”Apel Batu harus terus dipertahankan. Karena Kota ini dikenal sejak lama sebagai sentra penghasil apel. Apel adalah identitas Kota Batu,” kata Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto.
Penyusutan lahan tersebut tentu berdampak langsung pada produksi. Data pemerintah kota menunjukkan produksi apel Kota Batu pada 2024 tercatat sekitar 140.285 kuintal.
Baca Juga: Jembatan Sungai Lembu Banyuwangi Masuk Tahap Lelang, Cahyanto: Selesai 2 Pekan
Heli menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya lahan apel. Diantaranya karena petani mulai meninggalkan tanaman apel karena serangan hama sejak 8 tahun terakhir.
”Selain itu, perubahan iklim juga memengaruhi produktivitas tanaman apel yang dikenal membutuhkan kondisi suhu dan cuaca tertentu,” tambahnya.
Selain hama, tingginya biaya perawatan juga menjadi penyebab petani meninggalkan Apel. Mulai dari harga pupuk, obat tanaman, hingga biaya tenaga kerja yang terus meningkat.
Belum lagi alih fungsi lahan yang cukup masif. Terutama menjadi permukiman, vila, hingga kafe yang menjamur di kawasan wisata.
”Sentra kebun apel batu yang masih bertahan banyak berada di wilayah Kecamatan Bumiaji. Di Desa Tulungrejo, Bulukerto, Sumbergondo, serta Desa Bumiaji,” ujar Heli.
Komitmen Pemkot dalam Penyelamatan Apel Batu
Heli menegaskan, pihaknya mulai menyiapkan langkah penyelamatan Apel Batu dari penurunan. Diantaranya melalui penguatan kelembagaan kelompok tani, pemberian bantuan bibit unggul, hingga perbaikan infrastruktur jalan usaha tani untuk mendukung distribusi hasil panen.
Selain itu, Pemkot Batu juga mendorong kolaborasi riset dengan berbagai pihak guna mengembangkan varietas apel yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
”Harapannya, kebun apel tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu kembali menjadi sumber ekonomi utama masyarakat. Kita ingin apel tetap hidup dan menjadi ikon Kota Batu,” tegasnya. (SL)

















