Rabu, April 22, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Kolom

Antara Keras dan Kejam: Salah Paham yang Melahirkan Krisis Moral di Sekolah

redaksi swanews by redaksi swanews
22/04/2026
in Kolom
0
0
SHARES
101
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Antara Keras dan Kejam: Salah Paham yang Melahirkan Krisis Moral di Sekolah

Oleh : Feri Jatmiko

 

Nasib Bu. Atun yang menjadi salah satu guru yang saat ini viral di daerah Purwakarta, Jawa Barat. Bu. Atun adalah sosok pendidik yang justru menjadi korban perundungan oleh anak didiknya sendiri, sebuah pemandangan yang miris, sekaligus tamparan keras bagi wajah pendidikan kita. Apa yang terjadi bukan sekadar insiden tunggal yang terjadi sekali, melainkan gejala yang selalu berulang dan kian sering muncul ke permukaan. Inilah potret nyata sebuah dekadensi moral yang perlahan menggerogoti ruang yang seharusnya menjadi tempat pembentukan akhlak dan intelektual.

Keras dan Kejam

Fenomena ini menimbulkan banyak pertanyaan mendasar: siapakah yang salah, dan dimanakah yang kita perlu benahi? Mengapa dunia pendidikan tidak lagi menjadi ruang revolusi kesadaran, dan justru kerap menjadi panggung krisis nilai? Peran guru dan wali murid dalam hal ini bisa menjadi ujung tombak yang tak bisa ditawar. Disaat yang sama, pemerintah pun perlu juga bercermin, bahwa dalam mendefinisikan ulang sistem pendidikan, ada sebuah batas tipis yang kerap disalahpahami: antara “keras” dan “kejam.”

Kita harus tegas menolak kekejaman, tetapi tidak serta-merta alergi terhadap ketegasan atau bahkan bentuk-bentuk kekerasan yang terukur dan bertujuan mendidik. Kekejaman adalah buah dari amarah yang membakar tanpa arah, sementara kekerasan dalam batas tertentu, bisa lahir dari sebuah cinta yang ingin membersihkan dan memperbaiki.

Baca juga: BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA

Bayangkan ketika kita memiliki barang yang kita cintai, seperti kasur atau karpet, lalu ia kotor. Apa yang akan kita lakukan? Kita mesti mencucinya, menjemur di bawah terik matahari, dan bahkan memukulnya agar debu yang melekat luruh dan luntur. Apakah itu bentuk kekerasan? Jawabannya iya. Namun, apakah itu kekejaman? Tentu saja tidak. Justru di situlah wujud kepedulian dan kasih sayang bekerja.

Carousel Gambar Artikel

Dalam konteks pendidikan, murid dapat dianalogikan dengan berbagai kondisi tersebut. Ada yang cukup disentuh dengan kelembutan, seperti meja berdebu yang cukup dengan dilap. Ada yang perlu dibersihkan dengan disiplin seperti lantai yang disapu dan dipel. Namun, ada pula yang membutuhkan penanganan lebih keras seperti karpet atau kasur yang harus “dipukul” agar benar-benar bersih dari kotoran yang mengendap. Persoalannya, hari ini kita cenderung menolak diferensiasi pendekatan itu. Kita lebih memilih “nyanyian nina bobok” yang menidurkan, membiarkan kesalahan tumbuh tanpa koreksi, hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit diubah.

Bu atun- Purwakarta. Sumber foto:kalderanews

Di sinilah letak kegagalan kolektif kita: ketika pendidikan kehilangan keberanian untuk bersikap tegas dan keras, dan ketika kasih sayang disalah artikan sebagai pembiaran. Padahal, pendidikan sejatinya adalah perpaduan antara empati dan ketegasan, antara kelembutan dan keberanian untuk meluruskan. Sudah saatnya seluruh elemen mulai pemerintah, lembaga pendidikan, guru, orang tua, hingga masyarakat luas memiliki kesadaran yang sama. Bahwa membangun generasi tidak cukup hanya dengan kenyamanan, tetapi juga dengan ketegasan yang berlandaskan nilai.

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA

BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA

08/04/2026
Bubarkan KPK!

Bubarkan KPK!

24/03/2026
Load More

Pendidikan bukan sekadar ruang transfer ilmu, melainkan medan pembentukan karakter yang membutuhkan keberanian untuk bertindak, bukan sekadar menghindari risiko. Jika tidak, maka kasus seperti yang dialami Bu. Atun akan terus berulang, dan menjadi luka yang dinormalisasi, dan perlahan mengikis makna pendidikan itu sendiri.


Feri Jatmiko

Tags: Bu atunFeri JatmikoKasus viralPurwakarta
redaksi swanews

redaksi swanews

Swa News adalah media terpercaya yang menyajikan informasi cepat dan tepat.

Related Posts

BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA
Kolom

BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA

by redaksi swanews
08/04/2026
Bubarkan KPK!
Opini

Bubarkan KPK!

by Mat Ray
24/03/2026
Nuzulul Iqra
Agama

Nuzulul Iqra

by Mat Ray
07/03/2026
Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan
Opini

Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

by Nu'man Suhadi
03/03/2026
Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?
Hukum

Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?

by Muhammad Busyrol Fuad
01/03/2026
Momentum Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim
Agama

Momentum Ramadhan Perkuat Pembentukan Karakter Muslim

by Uril Bahrudin
23/02/2026

POPULAR NEWS

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

15/03/2026
Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

15/04/2026
Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

02/03/2026
Tetap Sering Padam! Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi Dikritisi Anggota DPRD Sumenep, PLN Tidak Respon

Tetap Sering Padam! Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi Dikritisi Anggota DPRD Sumenep, PLN Tidak Respon

17/03/2026
Jurusan sepi peminat di UPN

Pasti Lulus! Ini 15 Jurusan Sepi Peminat di UPN Jatim SNBT 2026

30/03/2026

EDITOR'S PICK

HUT ke-112 Kota Malang, DPRD Soroti PR Urban: Parkir, Banjir hingga Tata Kota Belum Tuntas

HUT ke-112 Kota Malang, DPRD Soroti PR Urban: Parkir, Banjir hingga Tata Kota Belum Tuntas

01/04/2026
Jurusan sepi peminat di UI

Jurusan Sepi Peminat di UI SNBT UTBK 2026, Bandingkan dengan Prodi Favorit

30/03/2026
Patrick Kluivert Gagal Membawa Skuad Garuda Menang, Netizen: Erick Thohir Harus Mundur! 

Patrick Kluivert Gagal Membawa Skuad Garuda Menang, Netizen: Erick Thohir Harus Mundur! 

21/03/2025
Mediasi dengan Aguan dan Anthony Salim, Akankah Oligarki Tunduk Pada Otoritas NKRI?

Mediasi dengan Aguan dan Anthony Salim, Akankah Oligarki Tunduk Pada Otoritas NKRI?

10/02/2025
logo swanews

© 2026 Swa News Indonesia

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan