Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Refleksi Hari Lahir Pancasila
Oleh : Prof. Dr. KH. Uril Bahrudin, MA
[Pengurus Majelis Tarjih Wa Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Timur]
Dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ruang kerja maupun ruang publik lainnya, kita pasti berdampingan dengan masalah perbedaan. Berbeda agama, suku, bahasa, pemikiran, pilihan politik, sosial maupun budaya.
Namun demikian, semua perbedaan merupakan wujud hukum alam (sunatullah) yang niscaya kita lalui. Tapi pada perkembangannya, kenapa dalam hidup berdampingan kadang sering kali menjadi permasalahan? Perbedaan yang seharusnya menjadi khazanah kekayaan untuk modal pembangunan justru terkadang berubah menjadi sumber prasangka, konflik, bahkan perpecahan?
Pokok permasalahannya, nampaknya karena kita belum dewasa dalam berinteraksi di tengah perbedaan, sebaliknya kita lebih tertarik mempermasalahkan unsur perbedaan ketimbang mencari titik temu dalam perbedaan tersebut.
Titik Temu Kemajemukan
Para pendiri bangsa ini sangat memahami tingkat kemajemukan. Bentangan demografis sepanjang Sabang hingga Merauke niscaya akan terhimpun aneka ragam suku, agama, maupun budaya. Maka niscaya pula membutuhkan kearifan untuk merumuskan eksistensi domestik dalam kedaulatan negara kesatuan.
Ujungnya, benang merah pokok pikiran negara kesatuan yang berdaulat itu harus bertumpu atas seluruh perbedaan yang kemudian tersusun secara sistemik dalam falsafah negara Pancasila (Unity in Diversity).

Jalan Toleransi
Sikap toleransi membutuhkan kesadaran substantif. Bukan hanya sekadar simbolik dan formalistik. Karena pada prinsipnya, sikap toleransi itu mengharuskan pengakuan setara melalui sikap saling menghormati antara sesama tanpa melihat suku, agama maupun golongan.
Namun praktiknya, sikap toleransi masih sering menghadapi jalan berliku dan terjal. Masih banyak tindakan ambivalen. Terlihat masih banyak persekusi dalam ruang sosial dan politik untuk menghakimi perbedaan. Ujungnya, kemudian menimbulkan gesekan sosial dan konflik.
Padahal dalam sikap toleransi mensyaratkan kemampuan untuk bersikap adil dalam menjaga keharmonisan komunal dan sosial tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Makna Empirik
Pada perkembangannya nilai-nilai Pancasila akan mengalami eksperimentasi dan pasang surut. Manakala ada bangunan kesadaran kolektif untuk saling menghormati dan menghargai, tidak sekadar seremonial, maka prinsip dalam Pancasila akan bermakna. Tapi, selama bangunan implementasi itu rapuh maka akan runtuh pula penjelmaan nilai luhur yang ada.
Secara universal, ketika saat ini kita dan dunia sedang mengalami krisis nilai, maka hadirnya Pancasila harus menjadi kekuatan inspiratif untuk mengembalikan identitas kemanusiaan yang beradab. Karena dalam pandangan Pancasila banyak nilai luhur yang mampu menjadi arus utama yang dibutuhkan dalam bangunan budaya dan peradaban global saat ini dan masa yang akan datang.
Wallahu a’lam
Batu, 1 Juni 2026

















