Rabu, Februari 4, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Viral
    • Internasional
    • Peristiwa
      • Bencana
      • Kriminal
      • Trending
  • Politik
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • EKONOMI
    • Bisnis
    • UMKM
  • Seni Budaya
  • Sains
    • Gadget
    • Teknologi
  • Lifestyle
    • Kesehatan
    • Gaya hidup
  • Entertainment
  • TRAVELING
    • Wisata
    • Kuliner
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Viral
    • Internasional
    • Peristiwa
      • Bencana
      • Kriminal
      • Trending
  • Politik
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • EKONOMI
    • Bisnis
    • UMKM
  • Seni Budaya
  • Sains
    • Gadget
    • Teknologi
  • Lifestyle
    • Kesehatan
    • Gaya hidup
  • Entertainment
  • TRAVELING
    • Wisata
    • Kuliner
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home EKONOMI

Mengapa Kita Selalu Kalah? “Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali”

Peter F Gontha by Peter F Gontha
24/05/2025
in EKONOMI, Kolom, Opini
1
Mengapa Kita Selalu Kalah?  “Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali”
0
SHARES
100
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Mengapa Kita Selalu Kalah?

“Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali”

Oleh: Peter F. Gontha

Mengapa Singapura, Malaysia, dan Thailand—tetangga kita, yang katanya sejajar—terus melaju ke depan, sementara kita hanya duduk, menonton, dan bertepuk tangan dari pinggir lapangan?

READ ALSO

Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Malang Dampingi Sertifikasi Halal Puluhan Pelaku Usaha di Jabung

Tambang dan Krisis Ideologi Dakwah Berkemajuan

Mengapa Kita Selalu Kalah? "Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali"

Selalu kalah

Mengapa setiap konser global besar, pengobatan medis kelas dunia, ajang olahraga internasional, atau fasilitas berkelas selalu ada di sana, tapi tidak pernah di sini?

Ketika Coldplay tampil tujuh malam di Singapura, puluhan ribu orang Indonesia terbang ke sana. Ketika Formula One melaju di Marina Bay, kita bersorak—bukan dari Jakarta atau Sentul—tapi dari tribun di Singapura. Ketika Taylor Swift, ikon musik paling berpengaruh saat ini, menggelar konser berturut-turut yang selalu penuh di Singapura, para Swifties Indonesia berebut tiket, memenuhi pesawat, dan membanjiri hotel-hotel.

Uang kita, rakyat kita, antusiasme kita—semuanya mengalir ke luar. Tidak pernah ke dalam.

Ketika yang membikin even Formula E, justru banyak yang membabi buta menggergaji kegiatan tersebut!

Bahkan, untuk pemeriksaan kesehatan rutin saja, kita pergi ke Penang atau Bangkok. Pengobatan kanker? Ke Gleneagles atau Bumrungrad. Operasi kosmetik? Ke Kuala Lumpur atau Phuket. Mengapa bukan di Jakarta? Mengapa bukan di Surabaya atau Bali?

Mari kita tarik lebih jauh. Singapura punya kasino. Malaysia, negara dengan mayoritas Muslim, punya kasino legal di Genting Highlands. Sementara kita berpura-pura seolah perjudian tidak ada di sini. Padahal, judi online berkembang pesat di depan mata.

Baca Juga: Prof Uril Bahrudin Dinilai Layak Perkuat Kerjasama UIN Maliki dengan Saudi Fund for Development

Selalu kalah

Di Bali, banyak tempat perjudian tersembunyi yang dilindungi oleh “kekuatan lokal,” tapi kita terus mempertahankan wajah moral seolah-olah suci, sementara kita kehilangan miliaran dolar devisa. Semua itu hilang—terbang bersama rakyat kita dan uang mereka.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: mengapa kita kalah? Mengapa kita selalu hampir, tapi tak pernah sampai? Jawabannya bukan misteri. Bahkan tidak rumit. Kita tidak serius!

Birokrasi kita adalah labirin perizinan yang dipenuhi inefisiensi, rente, dan ketidakpastian. Pemimpin kita reaktif, bukan proaktif. Kita terlalu sibuk bermain sandiwara moral sampai lupa pada realitas ekonomi.

Mengapa Kita Selalu Kalah? "Sebuah Esai untuk Membangun Indonesia Kembali"

Selalu kalah

Pemerintah hanya mendukung proyek-proyek visioner jika ada keuntungan politik. Investor diperlakukan dengan curiga, bukan dengan sambutan. Aturan berubah di tengah jalan. Kemitraan mati dalam rapat-rapat tanpa akhir. Inisiatif publik-swasta tenggelam dalam tumpukan administrasi.

Dan yang paling parah: kita takut perubahan. Kita melindungi sistem usang. Kita terobsesi pada kontrol. Kita takut kehilangan muka. Kita politisasi segalanya—dari hiburan, kesehatan, sampai infrastruktur. Sementara kawasan lain bermain untuk menang.

Singapura hanyalah pulau kecil tanpa sumber daya alam. Malaysia punya keragaman budaya, etnis, dan agama yang sama kompleksnya dengan kita. Thailand lebih sering kudeta daripada pemilu. Tapi mereka berhasil melakukan hal-hal yang masih kita anggap mimpi. Kita sebaliknya, seperti raksasa tidur yang menolak untuk bangun.

Kita punya talenta. Kita punya kekayaan alam. Kita punya skala. Tapi kita tidak punya visi yang jelas. Kita tidak melayani rakyat. Kita hanya mengelola, tapi tidak memimpin. Kita patuh pada aturan—tanpa pernah bertanya apakah aturan itu dibuat untuk kemajuan atau justru untuk kebuntuan.

Jika kita ingin berhenti kalah, saatnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan. Saatnya bersikap jujur secara brutal.

Apa sebenarnya prioritas kita? Mengapa kita takut pada keterbukaan? Kapan kita berhenti takut untuk menang?

Kalau ini tidak kita benahi sekarang, kita bukan hanya akan terus kehilangan event-event besar. Kita akan kehilangan rakyat kita. Masa depan kita. Dan tempat kita di dunia.

Selalu kalah


Peter F. Gontha

mantan Duta Besar RI untuk Polandia, pengusaha, musisi, dan pemerhati sosial-ekonomi

Tags: bangun IndonesiaInefisiensiPeter f GonthaRenteSelalu Kalah

Related Posts

Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Malang Dampingi Sertifikasi Halal Puluhan Pelaku Usaha di Jabung
Pendidikan

Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Malang Dampingi Sertifikasi Halal Puluhan Pelaku Usaha di Jabung

02/02/2026
Tambang dan Krisis Ideologi Dakwah Berkemajuan
Kolom

Tambang dan Krisis Ideologi Dakwah Berkemajuan

30/01/2026
Problem Tambang dan Etika Keberpihakan: Kritik terhadap Sikap Muhammadiyah
Kolom

Problem Tambang dan Etika Keberpihakan: Kritik terhadap Sikap Muhammadiyah

28/01/2026
Bukan Azwar Anas Pemilik Otoritas Tambang Tumpang Pitu!
Kolom

Bukan Azwar Anas Pemilik Otoritas Tambang Tumpang Pitu!

08/01/2026
Tumpang Pitu
EKONOMI

CSR Tumpang Pitu Wewenang Korporasi, Bukan Bupati!

29/12/2025
Tumpang Pitu
Kolom

Jejak Sentralisasi Dinamika Tata Kelola Tambang Emas Tumpang Pitu Banyuwangi

18/12/2025
Next Post
Membangun Generasi Ulul Albab di UIN Maliki Malang: Antara Strategi dan Implementasi

Membangun Generasi Ulul Albab di UIN Maliki Malang: Antara Strategi dan Implementasi

Comments 1

  1. Ping-balik: Heboh ! BEM KM UGM Nyatakan Mosi Tidak Percaya Kepada Rektor Ova Emilia Swa News

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kemenag RI

Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kemenag RI Dituntut Mundur

01/02/2026
Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

14/11/2025
Menjelang Pemilihan Rektor UIN Maliki Malang, Suhu Politik Mulai Memanas, Agus Maimun Deklarasi, FITK Pecah?

Menjelang Pemilihan Rektor UIN Maliki Malang, Suhu Politik Mulai Memanas, Agus Maimun Deklarasi, FITK Pecah?

13/02/2025
Dangdutan Isra Mi’raj di Banyuwangi

MUI Akan Membawa Dangdutan Isra Mi’raj di Banyuwangi ke Jalur Hukum? 

19/01/2026
Cahyanto Hendri Wahyudi Dipercaya Menjabat Kadis Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman Kabupaten Banyuwangi

Cahyanto Hendri Wahyudi Dipercaya Menjabat Kadis Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman Kabupaten Banyuwangi

23/01/2026

EDITOR'S PICK

Publik Lamongan Geram KPK Masih Bungkam Soal Nama Tersangka Korupsi Gedung Pemkab

Publik Lamongan Geram KPK Masih Bungkam Soal Nama Tersangka Korupsi Gedung Pemkab

02/02/2026
Halal Bihalal Wakil Menteri Agama, Romo H.R. Muhammad Syafii, Bersama Keluarga Besar HMI

Halal Bihalal Wakil Menteri Agama, Romo H.R. Muhammad Syafii, Bersama Keluarga Besar HMI

29/04/2025
Ada Agen Asing di Pertemuan Presiden Prabowo dengan Para Oligarki? Publik: Kemarin Kok ‘Omon-omon’ Aktivis Antek Asing?

Ada Agen Asing di Pertemuan Presiden Prabowo dengan Para Oligarki? Publik: Kemarin Kok ‘Omon-omon’ Aktivis Antek Asing?

09/03/2025
Sindiran Inayah Wahid untuk Gibran di Haul Gus Dur Ke- 15 : “Para-para” dan “Fufufafa” Jadi Sorotan

Sindiran Inayah Wahid untuk Gibran di Haul Gus Dur Ke- 15 : “Para-para” dan “Fufufafa” Jadi Sorotan

28/12/2024
Swa News Indonesia

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Cepat | Mencerahkan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Viral
    • Internasional
    • Peristiwa
      • Bencana
      • Kriminal
      • Trending
  • Politik
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • EKONOMI
    • Bisnis
    • UMKM
  • Seni Budaya
  • Sains
    • Gadget
    • Teknologi
  • Lifestyle
    • Kesehatan
    • Gaya hidup
  • Entertainment
  • TRAVELING
    • Wisata
    • Kuliner
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In