Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jakarta, Swa News – Pernyataan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, terkait penangkapan enam pejabat tinggi dan menengah Polri atas dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang berlangsung pada malam Minggu, 1 November 2026, di kediaman seorang mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), namun bukan rumah Jenderal Polisi (Purn.) Listyo Sigit Prabowo, menimbulkan banyak spekulasi.
Terkait rumah mantan Kapolri yang menjadi tempat penangkapan para perwira tersebut, Mahfud enggan menyebutkan identitas pemilik rumah.
“Itu nanti saja, enggak usah disebut, nanti akan muncul sendiri,” ujarnya.
Spekulasi Siapa Mantan Kapolri Pemilik Rumah Itu?
Hingga saat ini, nama mantan Kapolri pemilik rumah tersebut belum diungkap oleh penyidik kepolisian. Namun, berdasarkan pernyataan Mahfud MD, muncul dugaan bahwa sosok tersebut memiliki relasi dengan Solo.
Saat ini, sejumlah nama mantan Kapolri sebelum Listyo Sigit turut menjadi sorotan publik.
Salah satunya adalah Badrodin Haiti yang menjabat sebagai Kapolri pada 2015–2016. Namun, nama ini dinilai kurang relevan secara temporal dan disebut tidak memiliki jaringan di kepolisian.
Sosok lain adalah Idham Azis yang menjabat sebagai Kapolri pada 2019–2021, sebelum Listyo Sigit. Ia pernah menjabat sebagai Kabareskrim. Hingga saat ini, ia dinilai masih relatif aktif dalam lingkaran kepolisian karena memiliki kedekatan historis dengan jaringan tertentu di Mabes Polri.
Kemudian, ada Tito Karnavian yang menjabat sebagai Kapolri pada 2016–2019. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada era pemerintahan Jokowi. Tito memiliki pengaruh politik yang lebih luas dan disebut memiliki koneksi dengan lingkaran Solo (Jokowi). Tito juga pernah terlibat dalam operasi antiteror bersama Idham.
Mahfud menilai bahwa identitas mantan Kapolri yang dimaksud dan diduga memiliki hubungan dengan kasus penyadapan tersebut pada akhirnya akan terungkap seiring dengan perkembangan penyidikan. [A]
Penulis: Abdurrahman
Editor: Imam A. Hanifah


















