Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Oleh: Selamet Castur
CEO Swa News Indonesia
Swa News – Mari berpikir ulang secara konstruktif tentang cara pandang keislaman dalam konstelasi politik global.
Posisi politik Islam masih seksis. Saatnya meneropong lebih jauh terkait korelasi perseteruan politik antarnegara Islam (Muslim), yang terkadang menyeret dalam ruang emosi politik aliran. Kita sering terjebak menghabiskan energi berpikir distorsif tentang persepsi politik Islam versus sekuler, Yahudi, Kristen, dan lainnya. Belum lagi dampak politik akibat polarisasi perbedaan mazhab, Syiah, Sunni, Wahabi, serta aliran Islam lain.
Dulu pernah ada peristiwa politik menarik di Iran. Kala itu, Presiden Iran Hassan Rohani, yang terkenal berhaluan moderat, melakukan komunikasi via telepon dengan Presiden Amerika Barack Obama. Setelahnya, Hassan Rohani mendapat reaksi keras dari masyarakat Iran sendiri.
Karena pada saat itu, masyarakat Iran masih terpengaruh dengan gaya kepemimpinan mantan Presiden Iran, Ahmadinejad, yang terkenal berhaluan garis keras dalam menghadapi Israel dan Amerika. Ternyata, meski dengan alasan yang berbeda, respons negatif juga dialami Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, maupun Barack Obama karena melakukan komunikasi tersebut.
Pada bagian lain, Republik Islam Iran yang merupakan koloni Islam Syiah juga sering bersitegang dengan negara-negara Arab lainnya, baik itu Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, maupun Yordania, yang mayoritas berhaluan Islam Sunni dan mereka juga menjadi sekutu politik dan ekonomi Amerika Serikat. Barangkali pada saat itu hanya Presiden Suriah, Bashar Assad, yang menjadi bagian dari faksi Iran, walaupun akhirnya digulingkan.
Meski hingga saat ini ada kolonisasi politik Islam, situasinya masih menghadapi tantangan keras eksternal, yakni dekolonialisasi. Akibatnya, muncul hilangnya self-confidence, kemunduran sejarah, serta kegamangan masa depan. Kekacauan tersebut kemudian menghadirkan pelemahan konsolidasi pada semua tingkatan karena belum menemukan langkah taktis maupun strategis.
Faktanya lagi, hingga kini masih banyak pertikaian domestik maupun regional yang akhirnya justru membuka pintu masuk yang lebih dalam terhadap hegemoni imperium negara adikuasa menjadi kekuatan kosmopolit yang mampu mengendalikan pengaruh global serta mendikte negara yang menjadi koloni Islam.[]

















