Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Sempat heboh kabar pencekalan yang dialami Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, KH. Marzuki Mustamar, yang batal berangkat umrah di Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang, pada Sabtu (10/10/2026).
Menurut keterangan sumber YouTube Arniyus Media tersebut, paspor dan visa Arab Saudi Kiai Marzuki disebut telah lengkap. Meski demikian, Kiai Marzuki tidak dapat melanjutkan keberangkatan pada kesempatan tersebut. Namun, istri dan putranya dapat melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.
Berita yang sempat simpang siur, bahkan ada yang mengklaim hoaks, tersebut kini sudah dijelaskan sendiri kebenarannya setelah KH. Marzuki Mustamar batal berangkat.
Menurutnya, pada saat akan berangkat umrah, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang ini telah melengkapi seluruh berkas keimigrasian. Baik paspor maupun visa Arab Saudi milik yang bersangkutan telah dinyatakan resmi, valid, dan lengkap.
Kemudian, KH. Marzuki beserta keluarga tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Pada awal proses pemeriksaan, mulai dari check-in hingga melewati imigrasi Indonesia, semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala terkait kelengkapan dokumen.
Berikutnya, terjadi ketegangan sesaat sebelum terbang. Ketika itu, Kiai Marzuki mendadak dipanggil oleh petugas bandara. Petugas itu menyampaikan kabar bahwa ada nota larangan dari otoritas Arab Saudi yang menyatakan Kiai Marzuki belum diizinkan memasuki wilayah Arab Saudi.
Karena larangan tersebut bersifat personal kepada dirinya, istri dan anak-anak Kiai Marzuki tetap diperbolehkan terbang menuju Tanah Suci bersama rombongan jemaah umrah lainnya.
Setelah batal terbang, akhirnya Kiai Marzuki langsung memutuskan untuk kembali ke Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Sukun, Malang. (MM)
Penulis: M. Mudzakir
Editor: Imam A. Hanifah

















