Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Swa News – Dalam pidato sambutannya saat menghadiri acara Hari Lahir PKB ke-28 di Jakarta (23/7/2026), Presiden Prabowo menggunakan kiasan negatif “londo ireng” terhadap jurnalis, pengamat, dan LSM karena dianggap melayani kepentingan asing untuk melemahkan negara.
Ia mempertanyakan sumber pendanaan mereka. Ia juga menilai ada media, pengamat, dan LSM yang tidak objektif serta hanya fokus menyoroti kekurangan rezim pemerintahan saat ini.
Latar Historis
Istilah londo ireng bermula dari sejarah Perang Diponegoro (1825–1830). Kala itu, kebijakan perang pemerintah Belanda telah banyak menguras tenaga dan keuangan sehingga mengalami krisis militer.

Untuk mengatasi krisis militer dan keuangan tersebut, pada tahun 1830 pemerintah Belanda merekrut tentara yang berasal dari Afrika.
Sebagian besar dari mereka berkulit hitam untuk bergabung dengan tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger). Masyarakat pribumi kemudian menyebut mereka Londo Ireng (Zwarte Hollanders).
Transformasi Simbolik
Rupanya, istilah londo ireng juga mengalami pergeseran makna. Pada masa kolonial, istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut orang pribumi yang dinilai menjadi pembelot dan pengkhianat.
Dalam pergaulan politik kontemporer, metafora londo ireng kerap dipakai untuk memberikan label kepada orang maupun kelompok yang dinilai lebih berpihak pada kepentingan asing.
Penggunaan istilah itulah yang kemudian menimbulkan polemik karena digunakan Presiden Prabowo untuk menilai beberapa orang dan kelompok yang selama ini banyak mengkritik kebijakan pemerintahannya.
Kilas Balik
Akhirnya, kini muncul sosok penting dalam sejarah pergolakan militer pada awal abad ke-19, yakni Benjamin Thomas Sigar, yang disebut sebagai kakek buyut Presiden Prabowo.
Prabowo merupakan putra Sumitro Djojohadikusumo, seorang tokoh ekonomi dan mantan menteri di Indonesia, serta Dora Marie Sigar, perempuan berdarah Minahasa, Sulawesi Utara.
Dora Marie Sigar merupakan putri Philip Frederik Laurens Sigar (1885–1946), seorang pejabat pemerintah dan anggota Volksraad, serta Cornelie Emilia Maengkom (1888–1946), yang berasal dari keluarga birokrat Sulawesi Utara.

Silsilah keluarga Prabowo kemudian terhubung dengan Benjamin Thomas Sigar (1790–1879), yang dikenal sebagai perwira militer sekaligus pemimpin Pasukan Tulungan asal Minahasa (Hulptroepen). Ia merupakan kakek buyut Prabowo dari garis ibu, Dora Marie Sigar.
Mengutip catatan Adrianus Kojongian, seorang pemerhati Sejarah Manado, dalam artikelnya yang berjudul Tentang Keluarga Sigar, ia menjelaskan Benjamin Thomas Sigar juga punya andil dalam sejarah Perang Jawa (1825–1830). Kala itu, Benjamin Thomas Sigar ditunjuk sebagai kapiten yang memimpin Pasukan Tulungan asal Minahasa untuk membantu pihak kolonial di Jawa.
Selama perang berlangsung, pasukannya terlibat dalam sejumlah operasi di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Konon, ia juga terlibat dalam operasi penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang pada 28 Maret 1830. (SC)

















