Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Batu, Swa News– Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bulan Agustus mendatang, gelombang pedagang bendera Merah Putih musiman kembali memadati sudut-sudut strategis Kota Batu, Jawa Timur.

Menariknya, mayoritas penjual atribut kemerdekaan ini merupakan perantau yang datang jauh-jauh dari Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Pantauan di lapangan menunjukkan, para pedagang mulai menjajakan pernak-pernik bernuansa merah-putih di sejumlah jalur protokol dan lokasi ramai. Di antaranya Jalan Ir. Soekarno, kawasan Pendem, Jalan Diponegoro, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Bromo Semeru, hingga area Jalan Hasanuddin Pesanggrahan.
Baca juga: Pameran Like a Rolling Stone di Kota Batu, 33 Seniman Kritik Gaya Hidup Konsumtif
Topan, salah seorang pedagang bendera musiman yang menggelar lapak bendera merah putih di Jalan Hasanuddin, menceritakan kisah perjuangannya dan kawan-kawan sesama perantau. Ia menyebutkan, jumlah pedagang asal Garut yang mengadu nasib di Kota Batu tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini ada sekitar 15 pedagang dari Garut yang jualan di Kota Batu. Kalau tahun kemarin (2025) lebih dari 20 pedagang. Memang berkurang, karena hasil penjualan tahun lalu kurang sesuai harapan akibat sengitnya persaingan dengan toko online,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Lapak Bendera Merah Putih Musiman
Tantangan bagi para pedagang kaki lima musiman ini memang tak main-main. Menurut Topan, masuknya pedagang besar (bandar), pabrik konveksi langsung, serta gempuran harga murah di platform e-commerce menjadi pemukul utama omzet mereka di jalanan.
Meski begitu, potensi pasar secara fisik dianggap masih ada. Di sepanjang Jalan Hasanuddin hingga pertigaan Taman Makam Pahlawan (TMP) saja, tercatat ada 6 pedagang yang berjualan berdekatan.
“Jumlah ini belum termasuk belasan penjual lain yang tersebar di titik-titik kota kota Batu. Semuanya satu rombongan dengan saya dari Garut,” ujarnya.
Menghadapi kenaikan modal produksi, harga jual eceran bendera per item tahun ini pun terpaksa mengalami penyesuaian. Topan menyebutkan, Bendera Merah-Putih kuran 120 cm dibandrol Rp30.000, dan ukuran 150 cm Rp40.000. Sementara,
Umbul-Umbul dijual mulai dari Rp40.000 dan background Merah-Putih Panjang 10 Meter dijual Rp300.000.
“Kenaikannya tidak banyak. Hanya selisih Rp 5 ribu dari harga tahun kemarin. Sama, semua pedagang juga menaikkan harga,” katanya.
Meskipun harus bersaing ketat dengan gempuran digital, omzet pedagang bendera musiman ini sejatinya masih tergolong lumayan. Rata-rata dalam satu musim kemerdekaan, seorang pedagang mampu menghabiskan sekitar 15 kodi bendera.
Topan sendiri membawa total persediaan hingga 25 kodi dari Garut, yang terdiri dari berbagai jenis bendera, umbul-umbul, hingga background gedung. Pada musim tahun lalu, ia bahkan berhasil menjual seluruh pasokannya tersebut hingga habis.
“Alhamdulillah tahun kemarin saya bisa menghabiskan 15 kodi. Harapan saya tahun ini pembeli ramai. Sehingga semakin banyak uang yang pedagang bawa pulang,” harapnya. (SL)
Pewarta: Sholeh
Editor: M. Munif


















