Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Jika kita melewati Jalan Majapahit, Kota Malang, seakan-akan jalan itu tidak pernah menjadi tempat populer pada masanya. Sebab, memang tidak ada jejak yang tersisa untuk menandai kenangan masa lalu itu.
Padahal, pada era 1990-an, Jalan Majapahit atau yang lebih dikenal sebagai Blok M menjadi destinasi para pelajar, mahasiswa, orang tua siswa, hingga masyarakat umum untuk mencari kebutuhan buku pelajaran maupun buku bacaan bermutu lainnya dengan harga yang relatif murah.

Bukan hanya sekadar murah, terkadang kita juga bisa menemukan buku-buku klasik yang sangat sulit dijumpai di toko buku umum kala itu. Apalagi buku-buku haluan kiri. Sebab, rezim Orde Baru memang menerapkan kontrol yang sangat ketat terhadap peredaran buku.
Baca juga: Pasar Senggol Kota Malang, Kisah Sunyi Kenangan Masa Lalu
Bahkan, ada teman yang mengaku pernah tidak sengaja menemukan buku klasik monumental saat membongkar tumpukan buku berdebu di salah satu lapak. Buku itu adalah Das Capital jilid 1 dan 2 karya Karl Marx, serta sejumlah buku kiri karya Lenin yang disebut-sebut masih otentik terbitan Uni Soviet, yang kini menjadi Rusia.

Tentu, pada masa itu sangat sulit mendapatkan buku-buku kritis bermutu berhaluan kiri yang mencerdaskan. Hanya di Pasar Loak Blok M Kota Malang, karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer, Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) karya Soekarno, hingga berbagai buku lain dapat ditemukan dengan lebih mudah.
Keunikan Blok M Kota Malang
Hal paling unik ketika membeli buku di Blok M Kota Malang, khususnya buku klasik, adalah harganya yang sangat murah karena memang tidak ada standardisasi harga. Terlebih, para penjual terkadang membeli buku secara kiloan dari rumah tangga. Berbeda dengan buku pelajaran yang umumnya memiliki selisih harga sekitar 30 persen lebih murah dibanding toko buku biasa.
Namun, karena adanya kebijakan penataan kota dan untuk menghindari kemacetan, pada tahun 2003 fungsi Blok M berubah. Kini kawasan tersebut telah menjadi taman dan trotoar bagi pejalan kaki, sementara pasar buku dipindahkan ke Jalan Wilis. (RD)

















