Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News– Jika melewati Jalan Majapahit Kota Malang, maka kita akan melalui sebuah jembatan penghubung arah perjalanan dari Stasiun Kota Baru, Balai Kota Malang, kemudian menuju Alun-Alun hingga Kayutangan Heritage dan sekitarnya.

Dan ketika sudah berada diatas jembatan tersebut, maka kita dapat melihat ke arah sisi kanan, tepatnya sisi timur pasar burung dan ikan hias yang saat ini juga sudah berjejer beberapa kios bangunan usaha. Jika berdiri sebentar kita juga akan dapat lihat lekuk aliran sungai yang menuju belakang kantor pemerintahan Kota Malang.
Baca juga: Bioskop Misbar Kelud: Legenda Hiburan Rakyat Kota Malang yang Kini Terabaikan
Siapa sangka dulu pada era ’90 an tempat tersebut, persisnya sebelah timur gedung Dewan Kesenian Kota Malang memiliki kenangan mendalam tentang kisah Pasar Senggol Kota Malang.
Penamaan Pasar senggol yang berada di kawasan tersebut tidak menyerupai model pasar tradisional, apalagi pasar modern. Tapi pada masa itu nama pasar senggol berkonotasi kehidupan malam penuh remang-remang yang terkait dengan praktik prostitusi kelas pinggiran.
Jauh berbeda pemandangannya pada siang hari, akan nampak kenyataan adanya kehidupan sosial yang terpinggirkan oleh hiruk pikuk kelas menengah yang sedang mengatur pembagian kue kekuasaan untuk kesejahteraan lingkaran mereka sendiri. Sementara kehidupan sosial pasar senggol Kota Malang yang kebanyakan tuna wisma hanya bisa bertahan hidup dengan rumah kardus tanpa atap yang sangat jauh dari kata layak.
Dialektika Sosial Pasar Senggol Kota Malang era ’90 an
Pendek kata, eksistensi pasar senggol saat itu merupakan bagian dari subsistem kehidupan sosial urban Kota Malang. Meski komunitas mikro, tapi kehidupan dalam Pasar Senggol telah menjadi habitat dan identitas sosial budaya bahkan memiliki rangkaian pemenuhan ekonomi tersendiri.
Untuk para penghuni yang bertempat tinggal di Pasar Senggol, kebanyakan mereka pada siang hari sebagai pemulung, pengamen, dan tukang becak. Pada malam hari, sebagian perempuan penghuni pasar senggol maupun yang datang dari tempat lain membuka praktik prostitusi.
Tapi apapun kisah masa lalu, meski senyap tidak akan bisa dipisahkan dengan hadirnya wajah kota saat ini. Banyak kronik dialektika sosial masa lalu yang akhirnya mereka tidak berdaya menghadapi kuatnya arus birokrasi dan kapitalisme yang kemudian mencabut akar sosialnya.
Hilangnya entitas pasar senggol menggambarkan kalahnya rekonstruksi sosial kaum pinggiran dalam menghadapi represi kapitalis yang ditopang oleh kekuasaan negara. (RD)

















