Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jakarta, Swa News – Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Nanik Deyang pada Rabu (22/7/2026) bukan sekadar pergantian jabatan biasa.
Bagi pria yang akrab disapa “Mas Dar” ini, amanah memimpin program strategis nasional bernilai puluhan triliun rupiah tersebut merupakan babak baru dari perjalanan hidup yang dramatis.
Lahir di Dusun Mangunrejo, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan pada 23 Januari 1985, Sudaryono tumbuh bukan dari keluarga berkecukupan.
Namun di usianya yang kini menginjak 41 tahun, ia telah melompati garis takdirnya. Dari anak buruh tani menjadi pejabat penerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Pratama yang dipercaya mengawal program pangan dan gizi nasional.
Masa Kecil di Dusun Mangunrejo – Memikul Air dan Trik ‘Duduk Belakang’
Anak tunggal dari pasangan Yahyo dan Suwarni ini dibesarkan dalam lingkungan ketat khas masyarakat agraris. Karena orang tuanya tidak memiliki sawah sendiri dan harus menyewa lahan serta menjadi buruh bangunan, Sudaryono kecil sudah terbiasa dengan kerja keras sejak dini.
-
Tanggung Jawab Fisik: Setiap hari, ia memikul dua ember air dari sumur desa ke rumahnya sejauh hampir satu kilometer akibat krisis air bersih di desanya, sekaligus memanggul jerami untuk pakan sapi ternak keluarganya.
-
Trik Belajar Mandiri: Di sekolah, Sudaryono dikenal selalu memilih duduk di bangku paling belakang dan terkesan santai. Namun, ia selalu bisa menjawab pertanyaan guru dengan presisi dan mempertahankan nilai rapor di atas delapan. Rahasianya: ia selalu mempelajari materi pelajaran selepas subuh sebelum berangkat sekolah, sehingga pengajaran di kelas baginya hanyalah pengulangan.
Daya juang dan kecerdasannya sejak kecil membuat nama “Mas Dar” menjadi legenda serta teladan bagi anak-anak di Kecamatan Toroh dalam mematahkan kerangkeng kemiskinan.
Profil Sudaryono, Rekam Jejak Akademis, Bisnis, dan Bintang Mahaputera
Di balik latar belakang anak petani, Sudaryono menempa kapasitas dirinya hingga meraih gelar doktor di bidang teknik (Dr. Sudaryono Eng., M.M, MBA). Ketertarikannya pada eksplorasi teknologi, manajemen bisnis, dan olahraga membentuk karakternya yang disiplin dan visioner.
Sektor bisnis dan korporasi yang pernah dipimpinnya meliputi:
-
CEO Garuda TV (PT Digdaya Media Nusantara) sejak 2018.
-
Direktur Eksekutif Koperasi Garudayaksa Nusantara (KGN Coop) yang diprakarsai Prabowo Subianto sejak 2020.
-
Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) / PIHC (2025) setelah sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Perum Bulog.
Atas kontribusinya di berbagai sektor strategis, negara menganugerahkan tanda kehormatan tinggi Bintang Mahaputera Pratama kepadanya.
Jaringan Kuat di Kalangan Petani, Pedagang, dan Ring 1 Prabowo
Karier politik Sudaryono melesat pesat karena ia berada di lingkaran terdekat Prabowo Subianto. Mengawali kiprahnya sebagai asisten pribadi Prabowo pada tahun 2010, ia kemudian dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, hingga menjadi Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah pada usia 38 tahun.
Selain aktif di partai politik, Sudaryono memegang kepemimpinan di berbagai organisasi kemasyarakatan besar yang berhubungan langsung dengan piring makan rakyat, petani, dan pedagang pasar:
-
Sektor Petani: Menjabat sebagai Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia.
-
Sektor Pedagang Pasar: Memimpin APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) sebagai Ketua Umum, serta menjadi Ketua Dewan Pembina PAPERA (Pedagang Pejuang Indonesia Raya).
Pengalaman memimpin organisasi yang tersebar dari tingkat pusat hingga ke pasar-pasar tradisional inilah yang membuat Sudaryono paham betul rantai pasok pangan dari hulu (petani) sampai ke hilir (pedagang).
Ujian Baru di BGN – Mengawal Asta Cita
Sebelum ditunjuk memimpin BGN, Sudaryono mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI di Kabinet Merah Putih. Pengalamannya mengonsolidasikan sektor pertanian, pupuk, logistik pangan Bulog, hingga jaringan petani dan pedagang pasar menjadi modal utamanya memimpin BGN.
Dengan melepas jabatan Wamentan untuk menjadi Kepala BGN definitif, Sudaryono kini memikul tanggung jawab penuh untuk merealisasikan visi Asta Cita Presiden Prabowo: memastikan ekosistem Makan Bergizi Gratis (MBG) tepat sasaran, bebas dari kebocoran, dan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat, sebuah misi yang berakar kuat dari pengalaman hidupnya sendiri sebagai anak petani Grobogan.


















