Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Bangkalan, Swa News — Perayaan Hari Jadi Kabupaten Bangkalan 495 menolak tunduk pada batas wilayah. Saat pusat kota berpesta, denyut nadi kebangsaan justru bergemuruh dari sebuah sudut kampung di Desa Paka’an Laok, Kecamatan Galis.(28/10/2026) Tepatnya di halaman MI Raudlatul Muta’alimin mendadak membara.

Sekolah disulap total menjadi lautan hitam-merah. Identitas kultural Madura ditegakkan tanpa kompromi. Sejak pukul 08.00 WIB, pelataran madrasah bergemuruh. Sebanyak 120 peserta melebur dalam satu komando: dari murid TK, pelajar MI dan SMP, barisan wali murid, hingga para pendidik dan warga sekitar. Doa bersama dipanjatkan, sebelum derap langkah kaki serentak memecah keheningan desa.
Baca juga: Korban Perumahan Darul Firdaus KPRI UIN Maliki Malang Tuntut Transparansi Uang Rp19 Miliar
Atmosfer lokal disengat lewat dress code wajib yang membakar semangat kultural. Tidak ada ruang untuk busana biasa.
- Para wali murid tampil gagah dalam balutan sarung Marlena, baju hitam legam, dan kerudung merah menyala.
- Barisan siswa TK kompak mengenakan baju Marlena dan atribut sakera cilik.
- Para pelajar putri MI-SMP mengenakan gamis hitam berpadu kerudung merah, sementara siswa putra tegas berbalut sarung, baju hitam, dan kopyah.
Usai rute jalan santai dituntaskan, arena bazar langsung diserbu. Lapak-lapak kuliner dan jajanan lokal ludes diburu. Di titik inilah panggung ekonomi kerakyatan membuktikan kekuatannya—bahwa kemandirian desa digerakkan oleh tangan-tangan warganya sendiri.
Di balik kemeriahan ini, ada pesan telak yang dikirimkan ke ruang-ruang publik. Ketua Panitia sekaligus Kepala Sekolah MI Raudlatul Muta’alimin, Izzatul Mukarromah, S.Pd., melontarkan pernyataan yang menghujam tajam kesadaran kolektif.
“Kami yang tinggal di daerah tertinggal berupaya menjadi lebih maju dan menumbuhkan rasa cinta kepada daerah kelahiran melalui lembaga pendidikan. Orang tua murid terutama generasi harus mulai peka dengan hari besar dan hari-hari penting kedaerahan. Kami akan berusaha memberikan stimulus kepada warga sekitar untuk kemajuan pendidikan di daerah kami.” terangnya. (MJL)

















