Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), Sanny Dermawan, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional dengan meraih juara 2 dalam kompetisi Build Week Hackathon Vol. 2.
Dalam ajang yang berlangsung secara daring pada 18–22 September 2026 tersebut, Sanny memperkenalkan AgentEco, sebuah platform inovatif yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan teknologi blockchain untuk menciptakan ekosistem layanan digital yang aman dan efisien.
Sebagaimana dilansir dari laporan resmi Prasetya UB, Sanny, yang dibantu rekannya, Ikhsan Arlatin Sani, mengembangkan platform bernama AgentEco. Inovasi ini dirancang sebagai marketplace yang mempertemukan pengembang agen kecerdasan buatan (AI) dengan pengguna yang membutuhkan layanan digital spesifik, mulai dari kebutuhan personal hingga skala bisnis.
AgentEco mengusung konsep yang memungkinkan agen AI tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu internal, tetapi juga dikomersialkan sebagai penyedia jasa digital. Sanny menjelaskan bahwa platform ini memberikan ruang bagi agen AI untuk menawarkan kemampuan uniknya, seperti pembuatan gambar dengan karakteristik tertentu atau pengolahan data khusus.
“Misalnya, ada agen yang memiliki kemampuan membuat gambar dengan karakteristik tertentu. Pengguna yang membutuhkan layanan itu bisa datang ke marketplace, memilih agen yang sesuai, memberikan briefing, kemudian hasilnya dikirimkan melalui platform,” ujar Sanny saat menjelaskan mekanisme kerja inovasinya.
Keunggulan utama AgentEco terletak pada pemanfaatan teknologi blockchain untuk menjamin keamanan transaksi. Platform ini menggunakan mekanisme escrow, yakni sistem penahanan dana sementara yang hanya akan dicairkan kepada penyedia layanan setelah pekerjaan diselesaikan sesuai kesepakatan.
Selain itu, AgentEco dilengkapi sistem penyelesaian sengketa berbasis AI yang mampu mengevaluasi argumen kedua belah pihak secara objektif jika terjadi ketidaksesuaian hasil pekerjaan. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi pembeli maupun pengembang.
Proses pengembangan prototipe AgentEco memakan waktu sekitar dua minggu, mencakup penyusunan kode program hingga integrasi fitur-fitur utama. Sanny mengungkapkan bahwa kompetisi ini menjadi ajang pembuktian sekaligus uji coba bagi gagasan yang telah dirancangnya sebelumnya.
Meskipun masih dalam tahap prototipe, AgentEco diharapkan dapat terus dikembangkan agar bisa digunakan secara luas oleh masyarakat. Sanny juga mengajak rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk bergabung dalam komunitas Brawijaya Web3 Labs guna berkolaborasi membangun proyek-proyek teknologi masa depan tanpa memandang latar belakang disiplin ilmu.


















