Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Lamongan, Swa News – Nu’man Suhadi, Direktur PUSMALA (Pusat Studi Masyarakat Lamongan) yang juga merupakan aktivis asal Lamongan, Jawa Timur, menerima undangan untuk menghadiri Reuni Alumni Sekolah Demokrasi LP3ES.
Kegiatan tersebut akan digelar di Ruang Granada, Gedung Nurcholish Madjid Lantai 7, Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (5/8/2026).
Menurut Nu’man, reuni yang mempertemukan alumni Sekolah Demokrasi LP3ES dari angkatan pertama hingga angkatan terakhir tersebut menjadi ruang refleksi kritis di tengah kondisi demokrasi Indonesia yang dinilainya semakin pragmatis, transaksional, dan bertumpu pada popularitas.
“Demokrasi Indonesia hari ini sedang sakit. Kita punya infrastruktur demokrasi yang lengkap: pemilu, parpol, media. Tapi substansinya terkikis. Politik kita berubah jadi pasar. Suara rakyat ditakar dengan harga. Kebijakan ditakar dengan keuntungan elektoral,” tegasnya.
Nu’man menilai LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) telah berhasil melahirkan kader-kader yang kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, lembaga tersebut telah membangun pemahaman bahwa demokrasi yang sehat lahir dari kesadaran masyarakat, bukan dari praktik transaksional. Ia juga menegaskan bahwa demokrasi bukan warisan yang dapat dibiarkan begitu saja, melainkan harus terus diperjuangkan.
“Bahwa LP3ES telah membangun konsepsi demokrasi yang baik lahir dari kesadaran, bukan dari transaksi. Demokrasi juga bukan warisan yang bisa kita diamkan, namun harus terus diperjuangkan,” tambahnya.
Nu’man mengaku bangga menerima undangan dari LP3ES tersebut. Sebagai alumni angkatan pertama, ia menilai kehadirannya dapat mewakili suara dari daerah dalam forum nasional. Menurutnya, keikutsertaan tersebut menunjukkan bahwa diskursus demokrasi tidak hanya menjadi milik elite di Jakarta, tetapi juga melibatkan masyarakat dari berbagai daerah.
“Undangan ini adalah kebanggaan bagi kami yang berada di daerah, dan ini membuktikan bahwa suara dari daerah, dari desa, dari komunitas akar rumput, juga punya tempat dalam diskursus demokrasi nasional,” pungkasnya.

















