Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Swa News – Bahasa agitasi di atas menggambarkan ekspresi apatisme sebagian masyarakat terhadap fakta-fakta keberagamaan, baik secara individu maupun komunal, yang tindakannya justru tidak mencerminkan nilai etika dan moralitas agama itu sendiri.
Kemudian muncul gugatan publik yang seolah-olah mempertanyakan eksistensi manusia sebagai pengemban moralitas beragama dalam pranata sosial.
Kira-kira begini ilustrasinya. Bukankah martabat personal itu bersifat tentatif? Lalu, mengapa seseorang tetap memperoleh predikat kemuliaan (kesucian) dalam budaya beragama jika perbuatannya sendiri sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai agama?
Permasalahan semacam ini sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ada orang yang sangat awam, menggunakan bahasa yang sederhana, dan tidak memahami agama secara mendalam. Namun, dari sisi etika dan moral sosial, perilakunya justru selaras dengan nilai-nilai agama.
Sebaliknya, ada pula orang yang menguasai ilmu agama. Bahkan, kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari atribut budaya dan simbol-simbol keagamaan. Akan tetapi, perilakunya justru kerap keluar dari koridor common sense maupun pranata nilai agama itu sendiri.
Menanggapi fenomena tersebut, persepsi publik biasanya terbelah. Keterbelahan persepsi sosial itu menggambarkan adanya perbedaan garis struktural dalam masyarakat.
Biasanya, di kalangan masyarakat yang mengagungkan simbol-simbol tradisi, terutama mereka yang meyakini keniscayaan kepatuhan simbolik kepada figur tertentu, kepatuhan tersebut kerap melebur dalam batas-batas ketaatan yang dianggap suci secara agama.
Persepsi ini kemudian cenderung melahirkan sikap permisif terhadap kesalahan personal karena pertimbangan unsur berkah, dibandingkan dengan kepatuhan terhadap kemaslahatan sosial yang terkadang justru dipandang sebagai sesuatu yang “niragama”.
Berbeda dengan cara pandang masyarakat awam. Mereka cenderung menilai bahwa sikap yang selaras dengan nilai-nilai sosial lebih bermartabat karena kepatuhan terhadap norma sosial diyakini mampu menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.
Dengan demikian, kritik sosial yang tercermin dalam ungkapan spiritual yes, religion no salah satunya lahir karena adanya ruang dogmatisme yang mengajarkan keniscayaan ketaatan tanpa membuka ruang dialog yang kritis. Keadaan tersebut akan semakin berbahaya apabila disertai doktrin yang menempatkan kesucian personal sebagai sesuatu yang tidak dapat dipersoalkan sehingga berujung pada kultus individu.


















