Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Swa News – Saya tidak akan mengajak anda untuk memasuki teori relativisme Albert Einstein yang rumit membahas soal dimensi ruang dan waktu itu. Namun, saya hanya ingin mengajak merenungkan pitutur Kang Bejo yang kadang sok tahu ingin ikut nimbrung membicarakan relativitas kebenaran manusia.
Kala itu Kang Bejo bertutur pada temannya, ‘kadang sampean benar tapi yo sek akeh salahe’. Pernyataan ini sering kita jumpai sehari-hari dalam komunikasi budaya masyarakat jawa. Proposisi logika bahasa itu memiliki hukum positif-negatif, kuantitatif-kualitatif, dan pendekatan normatif-kontekstual dalam mengukur sebuah peristiwa perilaku objek personal maupun sosial.
Pola penilaian itu berbeda dengan cara pandang kausatif, yang selalu mengintegrasikan antara hukum sebab dan hukum akibat dari sebuah objek pikiran, ucapan, dan tindakan. Kita sering mendengar dialek jawa demikian, ‘gara-gara kon saiki ruwet’, atau kalimat, ‘nek aku gak teko gak kiro beres’.
Dalam kerangka hukum kausatif, orang cenderung berpandangan pada akibat yang ditimbulkan objek, atau lebih berfikir konteks ketimbang teks. Sementara proposisi yang pertama tadi, berasumsi pada hukum kedaulatan objek penyebab.
Kemudian korelasinya ada dimana dengan tafsir budaya berfikir kita?.
Untuk kalimat ‘kadang sampean bener tapi akeh salahe’, menegaskan cara pandang kebudayaan masyarakat yang tersusun secara korelatif antar esensi nilai kebenaran yang abstrak, imajinatif, dengan kebenaran empirik. Sementara pandangan kausatif menilai kebenaran berasal dari keadaan pragmatis, yang berfikir hanya pada kebutuhan, kepentingan, dan keuntungan temporal.
Tapi, kalau cara berfikir Kang Bejo kan sederhana, menggunakan rumus berfikir jawa yang ‘njawani’. Maksudnya, menampilkan kerangka berfikir sederhana, lugas, jujur, dan terbuka, untuk mewujudkan keunggulan hakekat ‘njawani’ yang mencerminkan pada tingkat kedewasaan mental kebudayaan.
Didalam struktur bahasa ‘kadang sampean bener tapi akeh salahe’ tersebut pada prinsipnya untuk memastikan kesetaraan antara kebenaran dan kesalahan. Karena, istilah ‘kadang’ maupun ‘akeh’ menggambarkan ritme yang tak terukur kuantitasnya.
Maka ungkapan Kang Bejo tadi, ‘kadang sampean bener tapi akeh salahe’, sejajar dengan kalimat ‘kadang sampean salah tapi akeh benere’. Kalau dalam analogi kaidah ushul, ‘hukum asal dari sesuatu itu boleh’, tapi secara dialektik juga menyatakan ‘hukum asal sesuatu itu haram (tidak boleh), sehingga tergantung teks yang menyertai alasan hukumnya.
Akhirnya, Kang Bejo berada dalam kerangka kebenaran berfikir eksistensialis, ia tegaskan, ‘seburuk-buruk perilaku seseorang pasti memiliki kebaikan, dan sebaik-baik orang juga memiliki kesalahan, itu lah relativisme internal.*
Oleh:
Selamet Castur
CEO Media Swa Indonesia


















