Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus mengubah wajah kehidupan masyarakat, masih ada sosok yang setia menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Sulthonul Arifin atau yang akrab disapa Mas Arif, seorang perajin warangka dan sandangan pusaka. Mas Arif, Meranggi Keris asal Pasuruan telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan keris dan berbagai pusaka Nusantara.

Dari sebuah rumah di kawasan Jalan Kavling Potre Koneng, Lowokdoro, Kebonsari, Kota Malang, denting alat pahat dan aroma khas serbuk kayu menjadi bagian dari kesehariannya. Di tempat itulah Arif merawat tradisi yang telah diwariskan keluarganya secara turun-temurun.
Kecintaannya terhadap dunia keris tumbuh sejak usia 17 tahun. Bahkan, ketertarikannya sudah mulai terbentuk ketika masih duduk di bangku SMP melalui bimbingan sang ayah, yang juga mewarisi keahlian tersebut dari generasi sebelumnya.
Baca juga : Bulu Tangkis, Pilihan Ekonomis Pelepas Penat Usai Bekerja
“Ini memang tradisi keluarga. Saya hanya melanjutkan apa yang sudah diwariskan oleh leluhur,” ujar Arif saat ditemui SwaNews, Selasa (16/6/2026).
Perjalanan panjangnya sebagai meranggi dimulai dari Pasuruan sebelum akhirnya membuka usaha di Pasar Comboran, Kota Malang, pada 1999. Selama dua dekade lebih ia melayani para pecinta pusaka dari berbagai daerah.
Sejak 2019, aktivitas produksinya dipindahkan ke rumah yang kini menjadi bengkel kerja sekaligus tempat menerima pesanan.
Sebagai perajin sandangan pusaka, Arif dituntut memiliki kemampuan yang tidak sederhana. Ia harus memahami bentuk, karakter, hingga filosofi setiap warangka yang dibuat. Tak hanya keris, berbagai jenis pusaka seperti tombak, pedang, hingga kujang pernah ia tangani. Bahkan, beragam jenis warangka senjata tajam juga menjadi bagian dari pekerjaannya.
“Semua jenis pusaka bisa saya garap, begitu juga berbagai jenis warangka senjata tajam,” katanya.
Keahlian Dasar Meranggi Keris
Keahlian dasar seorang meranggi keris tidak lepas dari pemahamannya terhadap bahan baku. Menurut Arif, tidak semua jenis kayu cocok digunakan sebagai warangka pusaka. Setiap kayu memiliki serat, corak, serta tingkat kekuatan yang berbeda. Karena itu, pemilihan bahan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas hasil akhir.
Berbagai jenis kayu seperti sono, cendana, mahoni, sawo, hingga jati kerap digunakan sesuai kebutuhan dan karakter pusaka yang akan dibalut.
Bersama dua orang karyawan, Arif mampu menyelesaikan rata-rata lima pesanan setiap hari. Namun jumlah tersebut bisa berubah tergantung tingkat kerumitan ukiran dan detail pengerjaan. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai Rp150 ribu hingga Rp1,5 juta. Besaran biaya ditentukan oleh ukuran, jenis kayu, model ukiran, serta aksesoris yang digunakan.
Di balik kesibukannya, Arif dikenal memberikan pelayanan yang nyaris tanpa batas waktu. Ia membuka ruang konsultasi bagi pelanggan selama 24 jam. Tak jarang, pesanan datang ketika sebagian besar orang masih terlelap. “Kadang ada yang datang jam satu pagi, Mas,” tuturnya sambil tersenyum.
Bagi Arif, profesi meranggi keris bukan semata-mata soal mencari penghasilan. Ada tanggung jawab budaya yang ia emban di balik setiap warangka yang dikerjakan. Keris dan pusaka, menurutnya, bukan sekadar benda bersejarah, melainkan simbol identitas bangsa yang menyimpan nilai filosofi, seni, dan perjalanan panjang peradaban Nusantara.
Melalui tangan-tangan pengrajin seperti dirinya, warisan leluhur itu tetap menemukan ruang untuk hidup di tengah zaman yang terus berubah. Saat budaya global semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, Arif memilih tetap setia memahat kayu, merangkai warangka, dan menjaga agar napas pusaka Nusantara tak pernah berhenti berdenyut. (MJL)
Penulis : MJL
Editor : M. Munif


















