Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Setelah seharian bergelut dengan pekerjaan, rasa penat dan stres tentu membutuhkan pelepas. Bagi sebagian warga, raket dan shuttlecock menjadi cara sederhana sekaligus ekonomis untuk menyegarkan pikiran selepas bekerja.
Setiap malam, lapangan bulu tangkis di Gedung Serbaguna Balai RW 06, Kelurahan Sukun, Kota Malang, tampak ramai dipenuhi warga. Dengan suasana santai dan penuh keakraban, olahraga ini menjadi pilihan favorit untuk mengisi waktu selepas jam kerja.

Biaya yang dikeluarkan pun terbilang murah. Hanya dengan Rp3.000 untuk satu shuttlecock yang sudah termasuk biaya sewa gedung, warga sudah bisa menikmati olahraga bersama.
Salah satu warga yang rutin bermain, Megatama, mengaku bulu tangkis menjadi opsi paling ekonomis dibandingkan olahraga lainnya.
“Murah meriah, tapi bikin badan enteng dan pikiran jadi plong,” ujar karyawan swasta tersebut usai bermain.
Tak hanya menyehatkan, suasana di Balai RW 06 juga menghadirkan kehangatan sosial. Banyak warga menjadikan permainan ini sebagai ajang silaturahmi dan melepas penat bersama rekan-rekan satu lingkungan.
Hal senada disampaikan Hendra, yang hampir setiap malam ikut bermain selepas pulang kerja.
Baca juga: Heboh! Babak Baru Skandal Perumahan Fiktif UIN Maliki Malang di Pengadilan Negeri Kepanjen
“Kalau main bareng rasanya lebih semangat. Bisa ketawa-ketawa, sekaligus olahraga,” katanya.
Bulu Tangkis Pelepas Letih Kerja
Di balik rutinnya aktivitas bulu tangkis tersebut, ada peran Andre sebagai koordinator lapangan. Ia mengatur keuangan, membeli shuttlecock, hingga mengurus sewa gedung. Andre juga menjadi penghubung informasi bagi warga terkait penggunaan gedung apabila berbenturan dengan agenda RW.

“Kalau ada jadwal bentrok, saya sampaikan ke teman-teman supaya bisa menyesuaikan,” ujarnya.
Bagi warga, bulu tangkis bukan sekadar olahraga. Aktivitas ini juga menjadi ruang berkumpul dan mempererat hubungan sosial di tengah padatnya rutinitas pekerjaan. Dibanding sekadar nongkrong di kafe, banyak pekerja memilih berkeringat di lapangan sebagai alternatif hiburan yang lebih sehat dan terjangkau.
Di tengah tekanan hidup perkotaan, bulu tangkis tetap menjadi olahraga rakyat yang sederhana, murah, sekaligus mampu menjaga kebersamaan warga. (MJL)


















