Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News— Memasuki gerbang perguruan tinggi bukan lagi sekadar soal duduk di ruang kuliah, melainkan mulai merajut mimpi hingga kancah internasional. Semangat inilah yang diusung Panitia RAJA Brawijaya dalam perhelatan Open House Rangkaian Acara Jelajah Almamater Universitas Brawijaya (RAJA Brawijaya) 2026 akhir Agustus lalu.

Sebagai bagian dari komitmen mencetak lulusan berdaya saing global, panitia menghadirkan sebuah ruang interaktif (interactive board) khusus bertajuk “Harapan Brawijaya untuk Dunia”. Melalui wahana ini, ribuan mahasiswa baru angkatan 2026 ditantang untuk menuangkan aspirasi sekaligus memperluas cara pandang terhadap berbagai isu global yang tengah mendunia.
Ketua Panitia RAJA Brawijaya 2026, Muhamad Daffa Yasa Pratama, menjelaskan bahwa perspektif global merupakan salah satu dari lima fokus utama yang diangkat dalam rangkaian orientasi tahun ini.
Baca juga: Mantan Kepala UPT Pasar Among Tani Kota Batu Ditetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Rp 262 Juta
“Jadi, kita ingin mengajak mahasiswa baru untuk menuliskan harapan untuk global. Setelah itu, secara tidak langsung kita membuka perspektif global dari mahasiswa baru,” ujar mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2024 tersebut.
Panitia RAJA Brawijaya 2026 Dorong Maba Bangun Jejaring Internasional Sejak Dini
Daffa menekankan, gelombang mahasiswa baru angkatan 2026 dituntut memiliki ketajaman analisis yang tidak hanya berkutat pada lingkup domestik, tetapi juga sigap merespons dinamika internasional. Penguasaan bahasa asing, keberanian berinteraksi dengan mahasiswa internasional di lingkungan kampus, hingga partisipasi dalam program global menjadi poin krusial yang digelorakan.
“Harapannya, mereka bisa lebih berpikir luas ketika ada isu global yang terjadi dan bisa lebih kritis dalam merespons hal tersebut. Mereka juga bisa membangun jejaring internasional, misalnya dengan mengikuti kegiatan berskala internasional, mulai belajar bahasa asing, serta berinteraksi dengan mahasiswa internasional yang ada di UB,” tambahnya.
Antusiasme tinggi turut dirasakan oleh para mahasiswa baru. Humaira Aulia, maba Program Studi Kedokteran angkatan 2026, menilai inisiatif tersebut membuktikan komitmen UB dalam mendorong mahasiswanya menembus batas dunia. Ia bahkan menuliskan asa besar untuk bisa lolos program pertukaran pelajar internasional dan membawa nama almamater ke panggung global.
“Harapan saya adalah dapat mengikuti program pertukaran pelajar atau melanjutkan pendidikan di luar negeri agar dapat membawa dan merepresentasikan nama Universitas Brawijaya di tingkat internasional,” ungkap Humaira penuh semangat.
Melalui pendekatan interaktif yang segar dan visioner, Raja Brawijaya 2026 sukses memantik kesadaran maba bahwa peran mereka kini telah bertransformasi, tidak hanya menjadi bagian dari sivitas akademika kampus tercinta, tetapi juga aktor penting di panggung masyarakat global. (ARD)
Penulis: Ardian F. R
Editor: Mukh. Munif


















