Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Surabaya, Swa News – Akhmad Muzakki yang baru saja dilantik sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya untuk periode 2026–2030 oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Selasa, 15 September 2026, menghadapi penolakan dari sivitas akademika.
Gelombang protes dan penolakan tersebut datang dari elemen mahasiswa, dosen, guru besar, hingga alumni. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa juga sempat melakukan aksi besar-besaran, menduduki gedung rektorat, hingga menyegel gerbang utama kampus UINSA yang berada di Jalan A. Yani, Surabaya.
Berdasarkan informasi yang konon berasal dari sumber internal Kementerian Agama, Muzakki telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan rektor pada Selasa malam (22/9/2026).
Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi secara langsung yang disampaikan pihak Prof. Akhmad Muzakki terkait pengunduran dirinya. Menurut berbagai sumber, sebaran informasi secara masif mengenai mundurnya Muzakki yang diyakini mencuat dari sumber internal Kementerian Agama (Kemenag) itu terjadi pada Rabu (23/9/2026).
Menurut salah satu sumber, juga telah membenarkan soal Prof. Muzakki memutuskan mundur pada Selasa (22/9) malam dan katanya yang bersangkutan langsung bertolak ke Jakarta sore harinya.
Akan tetapi, hingga saat ini pihak Humas UINSA Surabaya belum mengeluarkan pernyataan pers mengenai status definitif jabatan rektor maupun penunjukan Pelaksana Tugas (Plt.) rektor baru untuk menggantikannya.
Pihak Swa News telah mendapat konfirmasi dari Sekjen Kemenag, Kamarudin Amin, yang membenarkan informasi terkait mundurnya Muzakki dari jabatan rektor pada Rabu (23/9/2026) siang. (MM)
Penulis: M. Mudzakir
Editor: Imam Abu Hanifah


















