Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jatim, Swa News – Kepala Sekolah Dasar (SD) Inovasi Muhammadiyah 1 Trenggalek, Jawa Timur, Junianto Ikhsan Nurwahyudi, memutuskan tidak lagi mengikuti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun ajaran 2026/2027.
Keputusan tersebut diambil setelah hasil evaluasi menunjukkan bahwa proses pembagian makanan mengurangi waktu belajar, sementara masih banyak makanan yang tidak dihabiskan siswa.
Menurut Junianto Ikhsan Nurwahyudi, keputusan tersebut bukan merupakan bentuk penolakan terhadap program pemerintah. Namun, salah satu pertimbangan utama ialah berkurangnya waktu belajar efektif, Senin (13/7/2026).
Alasan lainnya, sekolah menemukan makanan MBG kerap tidak habis dikonsumsi. Sebagian masih utuh, sedangkan sisanya telah bercampur dengan sisa makanan siswa sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali.
“Sisa makanannya terlalu banyak yang terbuang. Sayang sekali, sangat mubazir,” kata Junianto.
Ia menuturkan masih banyak anak-anak di daerah lain yang jauh lebih membutuhkan bantuan makanan bergizi tersebut dibandingkan siswa-siswi di SD Inovasi Muhammadiyah 1 Trenggalek.
Menurut Junianto, keputusan untuk tidak lagi mengikuti Program MBG telah dibahas bersama guru, yayasan, komite sekolah, dan wali murid. Pihak sekolah juga telah menyampaikan pemberitahuan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, baik secara lisan maupun melalui surat resmi.
Bahkan, Junianto menyebut sekitar 90 persen wali murid mendukung keputusan sekolah untuk keluar dari Program MBG pada tahun ajaran 2026/2027.
Perlu diketahui, meski tidak lagi menerima MBG, menurut Junianto, sekolah tetap menjalankan program makan siang mandiri yang telah diterapkan sejak sekolah berdiri pada 2020.
Menurut Junianto, melalui program makan siang mandiri, sekolah dapat menyusun menu bulanan, menyediakan lauk pengganti, serta menyampaikan evaluasi langsung kepada pengelola dapur apabila kualitas atau menu makanan dinilai tidak sesuai.
“Kalau ada menu yang kurang cocok atau kualitasnya menurun, kami bisa langsung menegur pihak dapur. Kami juga bisa mengatur sendiri variasi menunya agar anak-anak tidak bosan,” pungkasnya. (RD)


















