Megengan
Mat Ray
Megengan dan Apem merupakan identifikasi kesatuan tradisi kebudayaan masyarakat Islam Jawa. Biasanya dilaksanakan di akhir bulan Sya’ban dalam rangka menyambut Ramadan.
Megengan berasal dari suku kata bahasa Jawa, megeng yang memiliki makna menahan. Menggambarkan hakikat spiritual puasa Ramadan melalui jalan syariat untuk menahan lapar, haus, dan nafsu.
Sementara jajanan pasar apem yang wajib ada dalam sajian Megengan disinyalir memiliki kesamaan dengan bahasa Arab, afwan atau afwun yang memiliki makna permaafan atau ampunan. Kemudian melahirkan ritual simbolik saling bermaafan menjelang bulan puasa Ramadan.

Biasanya, pranata ritual Megengan diawali dengan nyekar (ziarah kubur), selamatan (kenduri) di masjid atau musala, kemudian dirangkai dengan doa bersama, dan berlanjut berbagi ambengan (berkat/makanan).
Pewarisan adat Megengan, dalam folklor yang berkembang di tengah masyarakat Islam tradisional, diyakini berakar dari penyebaran Islam di Pulau Jawa abad XV pada masa Kerajaan Demak. Kemudian dilanjutkan oleh para Walisongo yang lain, khususnya Sunan Kalijaga.
Rendah Hati
Secara implisit, makna filosofis jajan apem yang disajikan dalam Megengan merupakan simbol kesetaraan dan sikap rendah hati, bukan rendah diri. Bahkan secara teologis, simbol apem juga merupakan bentuk pengakuan eksistensi diri manusia sebagai makhluk yang lemah.
Secara kosmologis, simbolisasi apem dalam Megengan merupakan wujud sikap rendah hati (tawaduk) yang kemudian berimplikasi pada perilaku santun, toleran, adil, serta mampu menghargai harkat dan martabat orang lain.
Perkuat Solidaritas Sosial
Megengan memiliki makna penguatan nilai solidaritas sosial (al-tadhamun al-ijtima’i) berbasis pada nilai iman yang kemudian berwujud dalam sikap kepedulian, empati, dan tolong-menolong dalam kebajikan.
Implikasi moral-teologis dalam doktrin solidaritas sosial, Megengan merupakan kesediaan memandang umat manusia dalam satu kesatuan tubuh yang utuh. Bermula dari relasi teologis tersebut, Megengan ikut memperkuat kehadiran konstruksi syariah tentang “hablumminallah wa hablumminannas”, relasi vertikal terhadap hakikat iman tauhid Islam dan relasi horizontal melalui makna kesetaraan manusia.
Maka secara praksis, konstruksi falsafah Megengan niscaya melahirkan sikap keberpihakan pada struktur kaum lemah (mustadh’afin).
Ujungnya, tradisi Megengan dengan seluruh entitas tradisi kebudayaannya merupakan proyeksi reinterpretasi transformasi sejarah peradaban manusia berbasis nilai transendental di tengah kehidupan budaya profan yang serba material.
Mat Ray
Pelaku Spiritual










