Minggu, Maret 15, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Kolom

Kritik Bukan Gonggongan: Kritik Merupakan Nyawa Demokrasi, Bukan Kebisingan yang Harus Dibenci

Amril Nuryan by Amril Nuryan
24/03/2025
in Kolom, Opini, Politik
0
0
SHARES
100
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Kritik Bukan Gonggongan: Kritik Merupakan Nyawa Demokrasi, Bukan Kebisingan yang Harus Dibenci

Oleh: Amril Nuryan

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

Segera Ditahan! Hakim Tolak Praperadilan Yaqut Terkait Skandal Kuota Haji

Segera Ditahan! Hakim Tolak Praperadilan Yaqut Terkait Skandal Kuota Haji

11/03/2026
Nuzulul Iqra

Nuzulul Iqra

07/03/2026
Load More

Kritik bukan gonggongan

Ketika presiden menganggap kritik sebagai “kebisingan” dan pengkritik sebagai “anjing yang menggonggong”, lalu kelompok 58% mendegradasi makna kritik itu disempitkan menjadi “gagal move on”.

Demokrasi sedang diracuni. Kami tidak meratapi kekalahan, kami menuntut akuntabilitas. Bukan soal menang atau kalah pilpres, tapi soal hak setiap warga negara untuk mengawasi kekuasaan.

Kritik Bukan Gonggongan: Kritik Merupakan Nyawa Demokrasi, Bukan Kebisingan yang Harus Dibenci

Jika kemenangan 58% dianggap sebagai legitimasi mutlak, lalu dimana ruang bagi 42% rakyat yang memilih berbeda? Apakah hanya karena kami bagian dari 16% atau 24% yang tak sejalan dengan narasi mayoritas, kritik kami otomatis dianggap dendam politik?

Ini bukan tentang pilpres, ini tentang prinsip bahwa pemerintahan yang baik adalah yang berani diuji, bukan yang bersembunyi di balik jargon “Ndas-Mu” atau “Kau yang Gelap” untuk menghindari pertanyaan kritis.

Kalian boleh berkoar “kalah mengalah”, tapi dengar ini: kritik adalah napas demokrasi, bukan pengkhianatan. Jika pemimpin hebat, mengapa takut diuji? Jika 58% mandat suci, buktikan dengan melayani 100% rakyat, bukan membungkam minoritas. Kami, 16% atau 24%, bukan musuh, kami pengingat bahwa kekuasaan tanpa kritik adalah benih tirani dan bibit absolutisme.

Kritik terhadap kebijakan MBG, Gemuknya kabinet, Gas 3kg, Danantara, UU TNI, IHSG yang terjun bebas, kelakuan oknum-oknum polisi, perampasan kendaraan rakyat secara sewenang-wenang, deforestasi, dan lain-lain bukanlah “dendam politik”, itu adalah hak warga negara.

Tapi ketika pemerintah menjawabnya dengan “Ndas-Mu” atau “Anjing Menggonggong, kita maju terus “, yang ditunjukkan bukanlah kematangan berkuasa, melainkan ketakutan untuk diuji publik.

Baca juga: Ilfi Nurdiana Mulai ‘Gerilya’, Punya Jejaring Partai, Kans Kuat Menjadi Rektor UIN Maliki Malang?

Kritik bukan gonggongan

Menganggap kritik sebagai gonggongan (anjing) hanya menunjukkan kelemahan argumen. Kami tak perlu “move on” dari kritik, karena itu tugas konstitusi.

Yang harus “move on” adalah mereka yang terjebak dalam euforia kemenangan, tak sanggup mendengar. Demokrasi bukan soal mayoritas membungkam, tapi minoritas harus didengar.

Karena kredibilitas kepemimpinan dalam negara demokrasi adalah keniscayaan kemampuan membuktikan prestasi dan menjawab semua kritik dengan argumentasi dan gagasan, buksn dengan cara reaktif membungkam kritik.

Apalagi ada klaim mandatory rakyat melalui proses keterpilihan 58% yang menjadi kekuasaan untuk melayani keseluruhan rakyat yang ada. Maka harus mampu menanggalkan gap psikologis politik antara mayoritas dan minoritas.

Karena bagaimanapun proses demokrasi bukan sekedar ritual politik 5 tahunan untuk mengejar kemenangan. Tapi, juga merupakan ruang diskusi gagasan untuk memastikan kekuasaan tak menjadi tiran. Sesungguhnya kritik bukan anasir untuk menjatuhkan, tapi mengingatkan supaya tetap konsisten ditengsh jalan konstitusi dan tetap teguh dalam rute kepentingan publik.

Pada akhirnya, demokrasi membutuhkan keberanian, bukan sekedar menghadirkan mentalitas buzzer yang alergi akal sehat sambil joget “ok gas, ok gas”

Kritik bukan gonggongan


Amril Nuryan

Film Producer

Kritik bukan gonggongan
Tags: neo orbapemerintah anti kritikperusak demokrasiprabowo gagalTolak RUU TNI
Amril Nuryan

Amril Nuryan

Film producer

Related Posts

Segera Ditahan! Hakim Tolak Praperadilan Yaqut Terkait Skandal Kuota Haji
Jawa Timur

Segera Ditahan! Hakim Tolak Praperadilan Yaqut Terkait Skandal Kuota Haji

by redaksi swanews
11/03/2026
Nuzulul Iqra
Agama

Nuzulul Iqra

by Mat Ray
07/03/2026
Klaim Seskab Teddy Tak Sentuh Dana Pendidikan Dipatahkan Perpres, 223,5 Triliun untuk MBG
Politik

Klaim Seskab Teddy Tak Sentuh Dana Pendidikan Dipatahkan Perpres, 223,5 Triliun untuk MBG

by redaksi swanews
06/03/2026
Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan
Opini

Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

by Nu'man Suhadi
03/03/2026
Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?
Hukum

Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?

by Muhammad Busyrol Fuad
01/03/2026
Ketua Satgas MBG Kota Malang
Politik

Ketua Satgas MBG Kota Malang Tampik Kritik DPRD Soal Menu MBG Ramadan Bermasalah

by redaksi swanews
28/02/2026
Next Post
Kembali Heboh ! 5 Alasan Willie Salim Layak Dilaporkan Polisi, Netizen: “Content Creator Penyebab Konflik”

Kembali Heboh ! 5 Alasan Willie Salim Layak Dilaporkan Polisi, Netizen: "Content Creator Penyebab Konflik"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

  • Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

    Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kemenag RI Dituntut Mundur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Sahur, Dua Motor Vario 125 Digondol Maling di Ciptomulyo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekda Lamongan Bantah Berita Tersangkut OTT KPK Bupati Pekalongan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Swa News Indonesia

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Cepat | Mencerahkan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan