Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
[Didedikasikan untuk Haul Almarhum Moeslim Abdurrahman]
Mengingat pemikiran Islam Transformatif Kang Moeslim, ingat pula pada novel Robohnya Surau Kami karya Ali Akbar Navis (A.A. Navis, 1956). Pesan moral dari kedua karya tersebut adalah menjadikan keniscayaan kesalehan individu untuk mewujud dalam kesalehan sosial.
Untuk mempertegas kembali argumentasi gagasan Islam transformatif, secara teologis Kang Moeslim merujuk pada pesan Surat Al-Ma’un.
Genealogi Pemikiran
Pemikiran Kang Moeslim tidak bisa dipisahkan dari pengaruh pemikiran Islam yang dikembangkan pendiri organisasi Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan, yang selalu mengajarkan kepedulian terhadap kaum yang terpinggirkan (mustadh’afin) melalui pendekatan doktrin Al-Ma’un.
Untuk memperkuat jalan pikiran Al-Ma’un tersebut, Kang Moeslim kemudian menjadikan nama surat dalam Al-Qur’an itu sebagai identitas lembaganya dalam mengembangkan pemikiran Islam transformatif.

Selain itu, corak pemikiran Kang Moeslim juga sangat kental dengan gagasan Sosialisme Islam yang dicetuskan oleh Cokroaminoto, tokoh pergerakan nasional sekaligus pendiri Serikat Islam (SI), yang kemudian berkembang menjadi Partai Serikat Islam (PSI).
Jika membaca pemikiran Kang Moeslim secara utuh, tampak bahwa pemikirannya juga dipengaruhi oleh gagasan sosialis Islam kontemporer, Asghar Ali Engineer, seorang intelektual Muslim asal India yang menggagas konsep Teologi Pembebasan.
Anomali Dialektika Sosial
Problem kesalehan individu yang tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial juga pernah menjadi polemik dalam novel Robohnya Surau Kami.
Dikisahkan, ada seorang yang sangat rajin menjalankan ibadah salat di sebuah surau. Hampir setiap pagi, siang, dan malam, ia tidak pernah alpa. Apalagi setiap menjalankan salat, ia tidak pernah lupa berdoa, berzikir, dan berwirid dengan sangat lama serta khusyuk.
Tentu ia berharap menjadi pribadi yang saleh dan dapat masuk surga. Namun ironisnya, di balik kesalehan pribadi itu, ternyata ia tidak memiliki kepekaan sosial.
Bahkan, surau tempat ia beribadah pun tidak diperhatikan. Ia tidak menyadari bahwa surau yang ditempatinya telah rapuh dimakan usia. Pada suatu hari, ketika sedang menjalankan ibadah, tiba-tiba surau tersebut roboh dan menimpanya.
Kedua kisah refleksi sosial-keagamaan tersebut menggambarkan kenyataan betapa pentingnya kesalehan pribadi menjadi pilar bagi terwujudnya kesalehan sosial.
Menuju Teologi Transformatif
Bagi Kang Moeslim, langkah menuju teologi transformatif berangkat dari kesadaran paradigma Al-Ma’un yang berbasis pada Surat Al-Ma’un. Secara dialektis, Tuhan juga telah menggugat eksistensi kesalehan personal yang abai terhadap tanggung jawab sosial.
Kemudian, Kang Moeslim menggagas sebuah konsep teologi transformatif, yakni Teologi Al-Ma’un. Sebuah konsep teologi yang meletakkan secara simetris korelasi antara kesalehan individu dan kesalehan sosial dengan merumuskan ulang doktrin khairun al-nās anfa’uhum li al-nās.
Bahkan, menurut Kang Moeslim, dalam konsep teologi transformatif, kesalehan sosial tidak hanya untuk memenuhi prosedur fikih, melainkan juga menjadi keniscayaan pelembagaan spiritualitas profetik guna menjaga keseimbangan individu dalam melaksanakan fungsi keadilan sosial.


















