Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jogjakarta, Swa News– Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto, menilai rezim Prabowo-Gibran dalam mengelola kekuasaan telah melakukan pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan.
“Sesungguhnya, kekuasaan hari ini telah terbukti mengkhianati ilmu pengetahuan dan karenanya kampus menjadi pihak yang paling dilecehkan,” ujar Tiyo (21/5/2026).

Pernyataan Tiyo tersebut menjadi penjelasan atas aksi pemasangan baliho permohonan maaf di Bundaran UGM karena membiarkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Spanduk yang sempat menghiasi kawasan Bundaran UGM itu berisi refleksi penyesalan atas kondisi kepemimpinan yang dinilai tidak kompeten, runtuhnya moralitas politik, hingga kehancuran ekonomi.
Baca juga: Women Crisis Center (WCC) Malang Kecam Predator Seksual yang Menjabat Pimpinan Perguruan Tinggi
Diperkirakan baliho permohonan maaf tersebut dipasang sejak pukul 07.30 WIB. Namun, menurut sejumlah pihak di lokasi, baliho di area Bundaran UGM itu tidak bertahan lama. Sekitar pukul 09.32 WIB, spanduk tersebut telah diturunkan oleh petugas keamanan kampus (PK4L).
Respon Rektorat UGM Terkait Baliho Permohonan Maaf
Juru Bicara Rektorat Universitas Gadjah Mada (UGM), I Made Andi Arsana, kemudian mengeluarkan pernyataan resmi bahwa baliho “Surat Permohonan Maaf” terkait kepemimpinan Presiden Prabowo yang viral tersebut bukan merupakan sikap resmi kampus. Pihak universitas memastikan narasi dalam baliho itu tidak mencerminkan pandangan institusi.
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua BEM UGM, Sheron Adam Funay, juga menyampaikan bahwa baliho tersebut merupakan inisiatif gerakan mahasiswa akar rumput di lingkungan kampus sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi ekonomi dan politik nasional saat ini. (RD)
















