Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Batu, Swa News– Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang tembus Rp 18.000 dalam sepekan terakhir dipastikan tidak membawa dampak instan bagi peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Kota Batu, Jawa Timur.

Alih-alih mendatangkan limpahan devisa dari turis asing, penguatan mata uang paman sam tersebut justru memicu efek domino yang menekan daya beli pasar domestik.
Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, saat memberikan keterangan resmi di kawasan Jalan Bukit Berbunga, Kota Batu, Kamis (4/6/2026).
Sujud menegaskan bahwa karakter pariwisata Kota Batu berbeda dengan Bali yang sangat sensitif dan bergantung pada pergerakan wisman. Menurutnya, dampak yang dirasakan di tingkat lokal saat ini justru merupakan imbas tidak langsung dari lesunya ekonomi makro nasional yang memukul kantong wisatawan lokal.
“Dolar meroket tidak langsung mengerek sektor pariwisata (Batu) karena pasar utama kita adalah wisatawan domestik. Dampak kenaikan kurs ini justru terasa lewat tekanan pada sektor industri dan produksi di daerah lain. Banyak wilayah mengalami pengurangan tenaga kerja, sehingga masyarakat kini jauh lebih hati-hati mengeluarkan uang, termasuk untuk urusan liburan,” jelas Sujud.
Kondisi ekonomi nasional yang mengetat di awal Juni ini membuat hotel-hotel di Kota Batu kesulitan mendongkrak tarif kamar, meskipun angka hunian (okupansi) sempat menyentuh 80 persen pada momentum libur panjang (long weekend) lalu. Demi menjaga agar tingkat hunian kamar tidak merosot, sebagian besar hotel terpaksa menahan harga di level normal atau tetap menggunakan tarif hari biasa (weekday) meskipun di akhir pekan.
Efek Dolar Meroket, Sektor Akomodasi Perhotelan dan Kuliner Kota Batu Malah Merosot
Tekanan pada pendapatan usaha pariwisata ini bahkan mulai berimbas nyata pada kantong Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan data internal yang dihimpun PHRI, grafik penerimaan pajak daerah di sektor akomodasi perhotelan dan kuliner Kota Batu terkonfirmasi merosot tajam berkisar antara 20 hingga 30 persen pada periode laporan buku tahun 2024–2025.
Meski omzet tertekan hebat akibat fluktuasi kurs, Sujud memastikan ekosistem perhotelan reguler di wilayahnya hingga saat ini masih berkomitmen penuh untuk menghindari gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal melalui manajemen krisis yang dinamis.
“Strategi utama kita adalah menjaga agar tidak ada PHK. Tidak apa-apa omset menurun, asalkan hak pekerja tetap aman. Polanya dilakukan lewat penyesuaian jam kerja dan unpaid leave secara bergantian. Pada periode sepi kunjungan (low season), ada hotel yang menerapkan pola empat hari kerja dan tiga hari libur dalam seminggu,” pungkasnya. (ARD)
Penulis : Ardian. F. R
Editor : M. Munif


















