Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Batu, Swa News– Kota Batu mulai memasuki musim kemarau yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di sejumlah wilayah.
Mengantisipasi karhutla dan kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari penyusunan dokumen rencana kontinjensi, pemetaan wilayah rawan karhutla, hingga penyusunan status siaga darurat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, menjelaskan selama musim kemarau untuk menghadapi potensi bencana berbagai langkah antisipasi telah disiapkan.
“Langkah-langkah strategis telah disusun BPBD, mulai dari perencanaan operasional hingga pemetaan wilayah rawan bencana di musim kemarau,” kata Gatot, Kamis (4/6/2026).
Sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan kebakaran hutan dan lahan, BPBD juga telah menyusun rencana operasi atau rencana kontinjensi khususnya di kawasan Gunung Arjuno-Welirang.
Baca juga: KPRI UIN Maliki Malang Kembali Mangkir, Sidang Gugatan Dugaan Skandal Perumahan Fiktif Ditunda
Selain itu, pemetaan wilayah rawan karhutla kini tidak hanya difokuskan di Kecamatan Bumiaji, tetapi juga diperluas ke sejumlah kawasan lain yang memiliki tingkat kerawanan serupa.
“Proses pemetaan daerah rawan diperluas ke wilayah sekitar Panderman dan Oro-oro Ombo, sehingga tidak hanya difokuskan pada kawasan Bumiaji,” jelas Gatot.
Saat ini BPBD Kota Batu juga tengah menyusun status siaga darurat bencana kemarau dan kekeringan tahun 2026. Dokumen tersebut akan menjadi landasan dalam upaya penanganan karhutla dan kekeringan yang berpotensi terjadi selama musim kemarau.
Ditambahkan bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Sementara faktor alam dinilai memiliki kontribusi yang relatif kecil.
“faktor alamnya sebenarnya relatif kecil, hanya dipicu oleh faktor petir,” tambah Gatot.
Upaya Cegah Karhutla dan Kekeringan
Masyarakat maupun wisatawan yang beraktivitas di Kota Batu diimbau untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca dan kebencanaan melalui sumber resmi dan terpercaya seperti BMKG maupun BPBD.
Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran terbuka yang tidak terkendali karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas. Untuk kegiatan pembukaan lahan, penggunaan metode tanpa pembakaran juga disarankan guna mengurangi risiko terjadinya karhutla.
Gatot menegaskan pula bahwa warga yang berada di kawasan rawan kebakaran perlu menyiapkan perlengkapan darurat sederhana sebagai langkah awal penanganan apabila terjadi kebakaran
“Himbauan disampaikan pada masyarakat di daerah rawan agar menyiapkan perlengkapan darurat pemadam kebakaran sederhana, seperti cangkul, sekop, ataupun karung goni basah,” tegas Gatot. (SL)
Reporter: Sholeh
Editor: M. Munif

















