Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News– Gema Azan subuh bersautan, dedaunan dipohon pinggir pasar masih basah oleh embun. Abdul Wahab dengan cermat menata sisa dagangan ikan pindang dilapaknya. Senyum tenang dan mata berkaca-kaca pikirannya mengarungi waktu mengingat saat dia menjinjing ratusan ikan pindang dikedua tangannya dua dekade lalu.

Peluh keringat tiap pagi membanjiri tubuhnya tatkala membantu mengangkut dagangan ikan milik kakak perempuannya di Pasar Induk Gadang.
Kala itu usianya tergolong masih belia. Saat kebanyakan anak seusianya menginjak kuliah semester kedua, dia harus berjibaku dengan waktu, memastikan cashflow penjualan, dan melayani pelanggan yang kadangkala menguras kesabaran. Bahkan ada kalanya matanya tak mampu terpejam selama tiga hari tiga malam akibat dagangan yang ia tunggu tak kunjung terjual.
Baca juga: KPRI UIN Maliki Malang Mangkir Sidang Perdana Skandal Perumahan Fiktif di PN Kepanjen
“Waktu itu, paling berat ketika dagangan tidak ada yang laku dan pelanggan belum pada bayar.” Kenangnya.
Kurang lebih selama enam tahun dari 2001 sampai 2006, ia berjibaku sebagai kuli panggul diperantauan. Memahami hilir mudik distribusi barang, interaksi dengan pelanggan serta mengelola keuangan dalam sistem perdagangan.
Sampai pada awal 2006, Wahab memutuskan untuk berpisah dari pekerjaan lamanya dan membuka usaha sendiri. Ia bercerita waktu itu dalam memulai usahanya secara mandiri. Ia tak punya banyak pundi rupiah untuk modal. Tetapi keyakinannya yang telah membangun kepercayaan pelanggan dan juga suplier semakin memantapkan hatinya.
“Dulu ya nekat aja, nyetok barang sendiri. Lalu kami melayani pelanggan supaya setia. Tanpa pelanggan tetap, kita minim untuk bertahan,” ujarnya.
Kuli Panggul jadi Juragan
Perlahan kerja kerasnya membuahkan hasil, tangga kesuksesan mulai ditapakinya. Semakin banyak pembeli yang berlangganan dan dagangan ikan pindangnya juga semakin dikenal luas. Kini ia memiliki rumah, kendaraan, dan bedak (lapak) sendiri di Pasar Induk Gadang. “Alhamdulillah, sudah banyak pencapaian. Dari rumah, kendaraan, sampai bedak di pasar sudah punya sendiri,” katanya dengan nada syukur.
Abdul Wahab adalah salah satu potret nyata perjuangan pedagang di pasar tradisional. Meniti karier yang mungkin saja tak pernah dilirik oleh sebagian orang. Mengawali dari kuli panggul untuk mencari sesuap nasi, kadangkala nyaris tak tidur demi menjaga amanah yang ia emban menjual barang dagangannya.
Perjalanan hidup dari kuli panggul jadi juragan tak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap saat banyak tantangan yang menyertainya, jika tanpa keteguhan hati serta konsistensi tak mungkin ia bisa bertahan.
Hingga pada saat yang tepat, akhirnya ia mampu berdiri tegak dengan usahanya sendiri dan mampu membiayai dapur karyawan-karyawanya. Baginya modal tak hanya soal uang tetapi konsistensi, dan pelayanan maksimal akan membuat kesetiaan bagi pelanggan. (MJL)

















