Jakarta, Swa News– Tim pengabdian masyarakat Universitas Indonesia (UI) telah mengadakan focus group discussion (FGD) dengan para nelayan komunitas bakau di Muara Gembong. (16/10/2025)

Komunitas Saung Alas Muara Gembong yang diketuai Imam Kombali Safii tersebut kini juga tergabung dalam Ekowisata Saung Alas. Selama ini komunitas tersebut telah mengembangkan komuditas bibit bakau. Bahkan, komunitas tersebut telah melakukan sosialisasi pada generasi muda terkait manfaat tanaman bakau sebagai penghalang abrasi dan pelindung dari gelombang air laut dan menjadi rumah bagi flora dan fauna yang hidup di perbatasan antara air laut dan air tawar (air payau).
Menurut pihak Universitas Indonesia yang diwakili Melani Budianta dan Yudi Bachrioktora, sangat mengapresiasi kemandirian langkah swadaya masyarakat tersebut. Kegiatan yang dilakukan Imam bersama warga Muara Gembong merupakan bentuk pengetahuan kearifan lokal yang tumbuh dari kebutuhan dan pengalaman hidup sehari-hari.
Bagi masyarakat Muara Gembong, khususnya di Pantai Sederhana masalah mangrove dan abrasi pesisir bukan merupakan satu-satunya tantangan yang dihadapi. Masih ada persoalan lain, seperti pendidikan anak-anak, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan penguatan kapasitas perempuan pada tingkat komunitas. Sehingga kegiatan pengabdian masyarakat UI membutuhkan perluasan akses lintas sektoral.
Baca juga : Sempat Ditutup karena Protes Limbah, PT QL Hasil Laut Sedayulawas, Brondong, Lamongan Kembali Beroperasi
Pihak UI juga menambahkan, berdasarkan hasil diskusi dengan warga khususnya para ibu, mereka berharap ada kegiatan ekonomi kecil berbasis komunitas. Seperti kegiatan budi daya ayam petelur dan pengolahan hasil laut berupa kerupuk ikan.
“Biasanya kegiatan kreatifitas kaum ibu itu bersama Saung Alas tersebut dilakukan saat para suami sedang melaut”, ujar Yudi Bachrioktora.
Untuk memperkuat program pengabdian masyarakat, UI juga mendorong keterlibatan mahasiswa secara intensif dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut. Kolaborasi yang telah berlangsung antara UI dan komunitas dapat menjadi ruang belajar bersama. Mahasiswa dapat memahami realitas sosial secara langsung, sementara masyarakat memperoleh manfaat nyata dari pendampingan dan inovasi yang dihasilkan.
Potret Komunitas Saung Alas Muara Gembong
Imam merupakan salah satu tokoh berdirinya Komunitas Saung Alas Muara Gembong. Ia menyatakan bahwa sejak tahun 1990-an dirinya sudah aktif berupaya mengembalikan mangrove dan bakau di Muara Gembong tepatnya di Pantai Sederhana.

“Saya menyadari air laut makin sering masuk ke kampung, tanah makin terkikis dan nelayan kehilangan tempat bersandar. Waktu itu saya sadar kalau kami di sini tidak bergerak sendiri, tak akan ada lagi yang tersisa,” ujar Imam.
Menurut Imam, pemikiran tersebut menjadi awal mula komunitas Saung Alas Muara Gembong berdiri. Bukan melalui proyek atau bantuan pemerintah tetapi melalui semangat kolektif warga. Para warga menanam mangrove sedikit demi sedikit menggunakan bibit yang dikumpulkan sendiri dari hutan yang masih tersisa. Mulanya warga hanya menanam beberapa ratus pohon saja, kemudian berlipat ganda menjadi ribuan.
Selain menanam mangrove, warga juga membangun Ekowisata Saung Alas. Tempat tersebut bukan sekadar destinasi tetapi juga menjadi ruang belajar bersama untuk mengenal pentingnya hutan mangrove, cara menjaga laut, dan kemandirian warga pesisir. Ekowisata Saung Alas dikelola bersama koperasi kecil yang dibentuk oleh warga sendiri. Semua keuntungan yang diperoleh juga kembali ke masyarakat.
“Kami tidak punya modal besar. Tidak ada bantuan alat atau dana hibah. Kami hanya punya tenaga, waktu, dan keyakinan bahwa menjaga alam sama dengan menjaga hidup kami sendiri. Masyarakat bergotong royong mulai bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak mudanya semua ikut terlibat. Sayangnya, hingga hari ini tidak ada kepedulian dari pemerintah pusat ataupun daerah terhadap daerah kami ini,” lanjut Imam.
Imam juga sudah berupaya menemui instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi ataupun KKP tetapi hingga kini belum ada tanggapan. Ironisnya lagi, pemerintah desa juga tidak memberi tanggapan apa pun terkait bantuan biaya untuk memperbaiki jembatan kayu untuk mempermudah akses kegiatan warga dan anak-anak sekolah.
Imam berharap kegiatan pengabdian masyarakat UI bersama Komunitas Saung Alas Muara Gembong dapat menjadi titik awal untuk menjalin kerja sama guna menciptakan kebermanfaatan yang lebih luas. (AR)















