Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jakarta, Swa News — Keputusan mengejutkan mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) terus memantik sorotan publik dan pelaku pasar.
Wartawan senior sekaligus mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, turut angkat bicara menganalisis dinamika di balik hengkangnya pimpinan tertinggi bank sentral tersebut.
Dahlan Iskan menilai, meski Istana menyatakan pengunduran diri tersebut didasari alasan pribadi, spekulasi di ruang publik tak terhindarkan. Hal ini meny meny menyusul tekanan berat pada nilai tukar rupiah yang terus melorot hingga menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS.
“Spekulasi terbanyak adalah akibat tekanan pemerintah. Nilai tukar rupiah mengalami kemerosotan yang tajam, dan di mata analisis, itu menjadi situasi yang sangat memberatkan,” ujar Dahlan Iskan dalam catatan analisisnya, Selasa (28/7/2026).
Bandingkan dengan Era B.J. Habibie dan Bank Sentral Global
Dahlan mengingatkan pentingnya menjaga ruh independensi Bank Indonesia yang dirancang sejak era Reformasi 1999 agar terbebas dari campur tangan kekuasaan eksekutif. Menurutnya, independensi mutlak diperlukan agar kebijakan moneter tidak disetir oleh kepentingan politik jangka pendek.
Ia mencontohkan sejarah kemerdekaan bank sentral pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, yang secara konsisten menghormati independensi BI hingga berhasil menguatkan kurs rupiah secara drastis dari level Rp16.000 ke Rp8.000 per dolar AS.
“Orang seperti Prof. B.J. Habibie menjiwai budaya itu. Beliau tahu apa yang harus diperbuat dan langsung menyatakan tidak mau ikut campur urusan bank sentral. Sikap seperti itu yang membuat rupiah menguat luar biasa di masa jabatannya,” terang Dahlan.
Dahlan juga membandingkan ketegasan independensi lembaga keuangan dengan bank sentral dunia, seperti The Federal Reserve di Amerika Serikat hingga Deutsche Bundesbank di Jerman yang memiliki benteng hukum serta budaya independensi yang amat kuat dari intervensi presiden.
Ujian bagi Destry Damayanti dan Kepercayaan Pasar
Terkait penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Penjabat (Pj) Gubernur BI, Dahlan menilai langkah ini krusial untuk menjaga stabilitas. Namun, tantangan terberat jajaran pimpinan BI saat ini adalah meyakinkan pasar finansial bahwa otoritas moneter Indonesia masih berdiri independen.
Kekhawatiran akan adanya campur tangan eksekutif dalam kebijakan penetapan suku bunga maupun nilai tukar dinilai dapat memicu keraguan pasar yang berujung pada pelemahan rupiah lebih lanjut.
“Analis akan mengamati apa yang terjadi sebelum dan setelah Perry mundur. Kekhawatiran akan campur tangannya pemerintah itulah yang membuat pasar kian cemas. Independensi bukan hanya soal aturan di atas kertas, tetapi soal persepsi dan kepercayaan masyarakat,” tegasnya.

















