Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) menerima kunjungan strategis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna membahas percepatan riset dan pengembangan vaksin Tuberkulosis (TB) di Indonesia.
Sebagaimana dilangsir dari laporan resmi Prasetya UB, agenda yang digelar pada Senin (2/11/2026) di Ruang Senat FK UB ini bertujuan untuk menyelaraskan visi antara institusi pendidikan dan lembaga riset negara dalam menghadapi tantangan kesehatan global.
Pertemuan ini menjadi langkah krusial dalam memetakan kapasitas inovasi serta mengidentifikasi hambatan teknis yang selama ini membayangi produksi vaksin mandiri di dalam negeri.
Dekan FK UB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), dalam sambutannya menegaskan bahwa peran perguruan tinggi sangat vital dalam ekosistem penelitian kesehatan nasional. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Kemandirian vaksin nasional perlu didukung oleh kapasitas riset yang berkelanjutan, sumber daya manusia yang kompeten, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga riset. Dengan demikian, hasil penelitian dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia,” ujar Prof. Wisnu di hadapan delegasi BRIN.
Diskusi tersebut juga menyoroti bahwa Tuberkulosis tetap menjadi salah satu fokus utama dalam pengendalian penyakit menular di Indonesia. Sinergi antara FK UB dan BRIN diharapkan mampu menciptakan peta jalan (roadmap) yang jelas, mulai dari penelitian dasar di laboratorium hingga uji klinis dan produksi massal.
Melalui kunjungan ini, BRIN berupaya menggali perspektif akademis mengenai kendala teknis dan administratif yang sering dihadapi peneliti, sehingga kebijakan riset di masa depan dapat lebih akomodatif dan solutif bagi para inovator lokal.
Selain aspek teknis, pertemuan ini juga menegaskan komitmen FK UB dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi. Penguatan inovasi melalui kolaborasi lintas institusi diharapkan tidak hanya berhenti pada diskusi meja bundar, tetapi berlanjut pada aksi nyata di laboratorium riset.
Dengan dukungan infrastruktur dari BRIN dan keahlian klinis dari FK UB, Indonesia optimis dapat mengurangi ketergantungan pada produk kesehatan impor dan memperkuat kedaulatan teknologi kesehatan nasional.


















