Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Batu, Swa News– Batu Street Food Festival (BSFF) #9 Tahun 2026 dengan tema Pesta Rasa di Kota Wisata – Sae Rasane, Sae Suasanane resmi dibuka,” Kamis (17/9/2026).
Festival kuliner tahunan yang telah konsisten digelar sejak 2018 ini kembali menjadi magnet pariwisata dan ruang kolaborasi bagi pelaku industri kuliner.

Festival yang akan berlangsung selama tiga hari ke depan ini diinisiasi oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu. Dalan pembukaan, dihadiri langsung oleh Wali Kota Batu Nurochman, jajaran Dinas Pariwisata, serta puluhan pelaku usaha hotel dan restoran.
Wali Kota Batu menyampaikan apresiasi kepada PHRI, panitia, dan seluruh pelaku usaha yang terus menjaga keberlanjutan BSFF. Menurutnya, BSFF telah berkembang jauh melampaui sekadar ajang kuliner.
Baca juga: Puncaki Trending TikTok Education Indonesia, Kampus UMM Kampanye Pesmaba Ramah Lingkungan
“Sejak pertama kali digelar pada 2018, BSFF telah berkembang menjadi salah satu ruang pertemuan antara kuliner, pariwisata, kreativitas, dan masyarakat,” ujarnya.
Tahun ini, sebanyak 30 tenant anggota PHRI hadir dengan beragam sajian unggulan berstandar hotel dan restoran berbintang. Tema “Sae Rasane, Sae Suasanane” dinilai sangat relevan dengan karakter Kota Batu.
“Karena yang kita tawarkan bukan hanya makanan yang enak, tetapi juga suasana Kota Batu yang nyaman, kreatif, dan menyenangkan,” tegasnya.
Lebih jauh, Wali Kota menekankan bahwa kekuatan Kota Batu sangat lengkap untuk menjadi Kota Gastronomi. Kota ini memiliki pertanian, bahan pangan lokal berkualitas, pelaku usaha yang kreatif, jaringan hotel dan restoran, serta kunjungan wisatawan yang tinggi.
Tantangan utamanya adalah bagaimana menghubungkan semua potensi tersebut agar hasil bumi tidak berhenti sebagai komoditas mentah, melainkan diolah menjadi produk kuliner bernilai tinggi yang menjadi bagian dari pengalaman wisata.
“Di sinilah pentingnya BSFF. Festival ini bukan hanya tempat menjual makanan. Ini adalah ruang untuk mempertemukan petani, chef, pelaku usaha, UMKM, komunitas, dan wisatawan. Dari sinilah ekosistem gastronomi Kota Batu terus tumbuh,” jelasnya.
Hal ini sejalan dengan langkah besar Kota Batu yang saat ini tengah berjuang menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Gastronomi 2027.
“Kota Batu telah berhasil melewati Seleksi Nasional Tahap I dan akan melanjutkan proses nominasi ke tahap berikutnya,” tegas Nurochman.
Senada dengan Wali Kota, Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi juga menyampaikan apresiasi tinggi, khususnya kepada Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu yang memberikan dukungan penuh sejak awal persiapan.
“Terima kasih kepada Kadisparta yang memberikan support dari awal terhadap acara ini, sehingga bisa terlaksana tepat waktu sebelum musim hujan,” ujarnya.
Sujud juga mengungkapkan fakta menarik bahwa BSFF sejatinya adalah festival yang digagas oleh Wali Kota Batu sendiri. Hal itu tidak lepas dari latar belakang Wali Kota yang pernah berkarier sebagai hotelier di awal tahun 2000-an, sehingga sangat memahami bagaimana festival kuliner mampu menggerakkan ekonomi pariwisata.
“Acara ini adalah acara yang dimiliki Wali Kota Batu, yang sebenarnya beliau sempat bekerja sebagai hotelier di awal tahun 2000-an. Jadi beliau sangat paham betul bagaimana festival seperti ini bisa menggerakkan ekonomi pariwisata,” jelasnya.
Untuk penyelenggaraan tahun ini, Sujud berharap tiga hari pelaksanaan bisa berjalan sukses dan memberi dampak nyata bagi anggotanya.
“Semoga dalam 3 hari ke depan acara ini dapat berjalan dengan sukses, ramai pengunjung, dan memberikan berkah bagi semua pelaku usaha kuliner di Kota Batu,” pungkasnya. (SL)
Pewarta: Sholeh
Editor: Mukh. Munif

















