Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Oleh: Selamet Castur
CEO Swa Indonesia
Swa News – Mengenal pemikiran Cak Munir berawal ketika yang bersangkutan mengisi pengkaderan di HMI. Kala itu ia mengingatkan, betapa perlunya seorang kader HMI memiliki prinsip yang konsisten menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, niscaya menegakkan keadilan, meski kadang akan berhadapan dengan kekuatan tirani negara.
Sekilas, struktur pemikiran Cak Munir itu bercorak ideologi kiri, radikal, dan progresif. Ia selalu membawa kita menuju jalan romantis ke alam pemikiran sosialisme Islam HOS Cokroaminoto. Bahkan Cak Munir juga sering mengkritik keras pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang dinilai terkesan melambungkan romantisisme sejarah dan terlampau elitis untuk dapat merambah ruang tafsir praksis yang lebih membumi dan berpihak.
Dalam konstelasi pemikiran HMI saat itu, khususnya di Malang, Cak Munir memiliki daya konsistensi untuk hadir menjadi dirinya sendiri. Ia adalah teks kiri yang komprehensif, yang menawarkan alternatif pemikiran sosialisme Islam baru yang lebih inklusif dengan menolak pewarisan sejarah feodal sosialisme Islam lama.
Jika dibaca secara substantif, sesungguhnya muara pemikiran Cak Munir itu berada dalam kerangka kritis untuk menata kembali relasi negara-bangsa (nation-state) dengan menempatkan posisi supremasi sipil.
Cak Munir menghadapi dilema besar ketika melihat fakta yang berbeda. Saat itu ada upaya keras aktor negara melembagakan kekuasaan tiran melalui pendekatan militeristik yang meminggirkan kuasa sipil. Akibatnya, spirit aktivismenya meledak bagaikan ‘little bomb’ namun ‘high explosive’ dalam mengontrol jalannya kekuasaan. Pada situasi tersebut, Cak Munir menghadapi berbagai pesan ancaman, namun naif dan tidak menggoyahkan keyakinannya untuk membela kaum proletar yang tertindas.
Mengingat kembali Cak Munir dengan seluruh takdir kehidupannya adalah melacak ulang sejarah eksistensi pribadinya secara utuh. Bukan sekadar untuk prosesi meratapi tragedi ketiadaan dirinya dengan memelas tanggung jawab penguasa, melainkan untuk mengabadikan martabat sejarah perjuangan kemanusiaannya.
Pada akhirnya, Cak Munir adalah sebuah teks atas diri dan perjalanan sejarah negeri ini. Kita perlu membaca ulang secara bijak hakikat ketiadaan Cak Munir dari cara pandang Jalaluddin Rumi yang pernah membisikkan, janganlah meratapi kematianku, tapi ingatlah akan kehidupanku.
Pada suatu hari Cak Munir juga pernah berpesan, janganlah terlampau berharap pada penyelesaian proses hukum di negeri ini, karena proses hukum hanya sebuah ilusi keadilan ketika kekuasaan masih menjadi habitat para tirani.

















