Rabu, Mei 6, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Kolom

Srehbungareh-Midway : Ketika Budaya FOMO Berdiri di Persimpangan Tasawuf

Ahmad Musawir by Ahmad Musawir
06/12/2024
in Kolom, Opini, Sastra
1
0
SHARES
100
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Srehbungareh-Midway : Ketika Budaya FOMO Berdiri di Persimpangan Tasawuf

Oleh: Ahmad Mussawir

Rabu malam (20/11/24), saya menyempatkan diri menghadiri acara Srehbungareh-Midway di IQ Coffee tentang fomo. Sebuah ruang diskusi yang hangat, di mana berbagai kalangan—mahasiswa, pedagang, driver ojol, guru, pekerja sosial, hingga pegiat literasi—berkumpul untuk berdiskusi dan mengobrol santai.

Tema yang diangkat kali ini cukup menarik: “Does Every One FOMO?”

FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, adalah fenomena yang cukup akrab di telinga generasi muda. Rasa cemas dan khawatir akan ketinggalan tren, baik itu dalam hal gaya hidup, teknologi, atau media sosial, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Fenomena FOMO, menurut salah satu peserta diskusi, erat kaitannya dengan fenomena dromologi, sebuah kondisi di mana kita hidup dalam ritme yang semakin cepat dan serba instan.

FOMO seakan menjadi “epidemik” di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Pertumbuhan pesat media sosial dan internet telah menciptakan lingkungan di mana setiap orang seolah-olah hidup dalam sorotan. Pembaruan status, foto-foto liburan, dan pencapaian pribadi terus bermunculan di beranda, menciptakan perasaan seolah-olah kita selalu ketinggalan sesuatu.

Carousel Gambar Artikel

Baca juga: Demam Akik, Batu Sisifus dan Politik

 

Generasi milenial dan Gen Z tumbuh di era di mana konektivitas menjadi hal yang sangat penting. Mereka terbiasa mendapatkan informasi secara instan dan terus-menerus terhubung dengan orang lain. Hal ini membuat mereka rentan mengalami FOMO, karena mereka terus-menerus membandingkan hidup mereka dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial.

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

Pendidikan Kontekstual Sebagai Jalan Partisipasi Semesta, Dari Ruang Kelas Menuju Realitas

Pendidikan Kontekstual Sebagai Jalan Partisipasi Semesta, Dari Ruang Kelas Menuju Realitas

03/05/2026
Antara Keras dan Kejam: Salah Paham yang Melahirkan Krisis Moral di Sekolah

Antara Keras dan Kejam: Salah Paham yang Melahirkan Krisis Moral di Sekolah

22/04/2026
Load More
 

Srehbungareh-Midway: Ketika Budaya FOMO Berdiri di Persimpangan Tasawuf

Srehbungareh-Midway

Di samping itu, generasi milenial dan Gen Z sering juga disebut sebagai “digital native”. Mereka lahir dan tumbuh di era digital, di mana teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kedekatan mereka dengan teknologi ini membuat mereka sangat rentan terhadap FOMO.

Sebagai digital native, generasi muda memiliki akses yang mudah dan hampir tanpa batas terhadap informasi. Mereka terbiasa dengan kecepatan dan instant gratification yang ditawarkan oleh dunia digital. Namun, di sisi lain, hal ini juga membuat mereka merasa tertekan untuk selalu “up-to-date” dan tidak ingin ketinggalan tren terbaru.

Sementara itu, FOMO dan asketisme tasawuf merupakan dua konsep yang sangat bertolak belakang. Jika FOMO mendorong kita untuk terus-menerus mengejar kepuasan duniawi, asketisme mengajarkan kita untuk melepaskan diri dari belenggu duniawi dan fokus pada pengembangan spiritual. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip asketisme, kita dapat mengatasi FOMO dan menemukan kebahagiaan sejati.

Di tengah obrolan tentang FOMO dan Tasawuf, saya tak bisa lepas dari pandangan pada dinding-dinding IQ Coffee. Lukisan-lukisan estetik bertema tasawuf, perlawanan kelas, dan budaya urban seakan menjadi kontras sekaligus menarik dengan tema diskusi tersebut. Tasawuf, yang mengajarkan tentang penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Tuhan, seolah menjadi semacam obat penawar bagi hiruk pikuk dunia yang penuh dengan FOMO.

Diskusi malam itu mengingatkan saya bahwa di tengah arus informasi yang begitu deras, kita perlu berhenti sejenak untuk merenung. Apakah segala sesuatu yang sedang kita kejar itu memang penting? Apakah kita sudah hidup seutuhnya? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, namun jawabannya tidak selalu mudah.

Srehbungareh-Midway bukan hanya sekadar ajang diskusi, tetapi juga sebuah ruang untuk saling berbagi dan belajar. Di sini, kita diingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada hal-hal materi atau pengakuan sosial. Kadang, kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kita temukan dalam hal-hal sederhana, seperti pertemanan, keluarga, dan kegiatan yang kita sukai.

Srehbungareh-Midway

Ahmad Mussawir

Pegiat sastra, kolumnis Swa News

 

Ahmad Musawir

Ahmad Musawir

Pegiat Pojok Peradaban Institute Malang.

Related Posts

Pendidikan Kontekstual Sebagai Jalan Partisipasi Semesta, Dari Ruang Kelas Menuju Realitas
Pendidikan

Pendidikan Kontekstual Sebagai Jalan Partisipasi Semesta, Dari Ruang Kelas Menuju Realitas

by redaksi swanews
03/05/2026
Antara Keras dan Kejam: Salah Paham yang Melahirkan Krisis Moral di Sekolah
Kolom

Antara Keras dan Kejam: Salah Paham yang Melahirkan Krisis Moral di Sekolah

by redaksi swanews
22/04/2026
BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA
Kolom

BALADA ADI PODEI DAN ADI RASA

by redaksi swanews
08/04/2026
Bubarkan KPK!
Opini

Bubarkan KPK!

by Mat Ray
24/03/2026
Nuzulul Iqra
Agama

Nuzulul Iqra

by Mat Ray
07/03/2026
Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan
Opini

Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

by Nu'man Suhadi
03/03/2026
Next Post
Gus Miftah Tidak Diakui Keturunan Kyai Muhammad Besari. Lantas Siapa?

Gus Miftah Tidak Diakui Keturunan Kyai Muhammad Besari. Lantas Siapa?

Comments 1

  1. Ping-balik: Demam Akik, Batu Sisifus dan Politik - SWA NEWS

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

15/03/2026
Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

15/04/2026
Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

14/11/2025
Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

02/03/2026
Tetap Sering Padam! Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi Dikritisi Anggota DPRD Sumenep, PLN Tidak Respon

Tetap Sering Padam! Pengelolaan Listrik di Pulau Sapudi Dikritisi Anggota DPRD Sumenep, PLN Tidak Respon

17/03/2026

EDITOR'S PICK

Bersama PPKB FIB UI, 11 Aparat Pemerintah Timor Leste Kunjungi Desa Baduy, Ada Apa?

Bersama PPKB FIB UI, 11 Aparat Pemerintah Timor Leste Kunjungi Desa Baduy, Ada Apa?

06/12/2024
Innalillahi, Suami Najwa Shihab Ibrahim Sjarief Assegaf Berpulang di Usia 48 Tahun

Innalillahi, Suami Najwa Shihab Ibrahim Sjarief Assegaf Berpulang di Usia 48 Tahun

20/05/2025
Gonjang-Ganjing Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumenep Dihentikan, Ada Problem Apa?

Gonjang-Ganjing Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumenep Dihentikan, Ada Problem Apa?

17/02/2025
Gus Miftah Tidak Diakui Keturunan Kyai Muhammad Besari. Lantas Siapa?

Gus Miftah Tidak Diakui Keturunan Kyai Muhammad Besari. Lantas Siapa?

07/12/2024
logo swanews

© 2026 Swa News Indonesia

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan