
Beberapa hari terakhir, media sosial sedang asyik menyuguhkan absurditas opera sabun yang penuh sensasional yang mendramatisasi perseteruan antara pengusaha rental mobil, Sahara, dengan dosen UIN Maliki Malang, Imam Muslimin (Yai MIM).

Akar masalah sengketa hingga kini belum terurai secara gamblang. Masih saling beradu narasi pembenaran (truth claim). Keduanya memberi penjelasan yang berbeda soal hulu masalah. Namun, gorengannya sudah melampaui berbagai ragam hilir, hingga merajut pada skandal pelecehan seksual.
Kelihatannya kisah drama tanpa pakem ini mengalami siklus panca robah. Awalnya, memang banyak netizen menghujat Yai MIM. Tapi, kini nampaknya bergeser dan banyak yang mendukungnya. Bahkan posisi Sahara saat ini agak terjepit.
Banyak yang penasaran, kenapa bisa berubah sedrastis itu? Apa sesungguhnya yang terjadi dengan pergeseran persepsi netizen? Apakah pergeseran yang ada karena berdasar fakta kebenaran, ataukah karena adanya pemanfaatan gonggongan influencer dan buzzer?
Bahkan para public figure yang selama ini menguasai jagat media sosial, semisal Denny Sumargo (Densu), Kang Dedi Mulyadi (KDM), kemudian pengacara Farhat Abbas ikut nimbrung mengkapitalisasi panggung opera sabun tersebut.
Baca juga: Hoaks Yai MIM Terbongkar: Wahyu Hidayat Bukan Madas, Tapi Putra Asli Malang
Lantas apakah drama Sahara Versus Yai MIM ini akan segera berakhir? Tentu belum. Tapi, akan antiklimaks? Kelihatannya akan masih ada beberapa episode lagi. Kemarin, memang ada drama saling bermaafan. Tapi apakah konsisten keduanya untuk mengakhiri drama perseteruan tersebut? Toh masih ada intrik lanjutan. Nampak masih memendam problem psikologis eksistensial. Untuk sementara waktu, keadaan Yai MIM kelihatan lebih superior dan dominan menguasai permainan. Barangkali saat ini Sahara mengalami kekalahan. Tapi, bisa saja Sahara menggunakan taktik gerilya merangkak untuk membalikkan keadaan. Begitu pun Yai MIM, ia akan mempertahankan untuk menguasai isu serta berbagai ragam simbol.
Pada bagian lain, saya juga menduga jika saat ini Yai MIM berkepentingan mengembalikan eksistensinya untuk tetap menjadi dosen UIN. Ia masih berobsesi bisa menjadi profesor dan pejabat UIN, kendati ia sempat mengundurkan diri selamanya. Nampaknya ia inkonsisten, karena dari lubuk hati yang paling dalam ia berharap pengunduran dirinya tidak dikabulkan. Dilemanya, jika permohonannya dikabulkan, maka sesuai dengan karakternya, pasti Yai MIM akan membuka front perlawanan baru dengan pihak UIN. Tapi Yai MIM sangat lihai memainkan kartu truf penyanderaan tersebut.

Pada akhirnya, saya tidak begitu yakin pihak UIN akan punya nyali melucuti atribut dosennya. Karena sejak awal saya melihat UIN bersikap ambigu. Sedari awal tidak berani memutuskan pengunduran diri Yai MIM. Keputusan UIN berstandar ganda, hanya menonaktifkan sementara. Membaca perspektif kecerdikan Yai MIM, kelihatannya beliau sudah layak menyandang gelar guru besar dan menjabat Rektor UIN Maliki Malang!
Mat Ray
Kolumnis Swa News