Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Oleh: Prof. KH. Uril Bahruddin
[Pengurus Majelis Tarjih wa Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Timur]
Setiap muslim yang melaksanakan ibadah haji maupun umrah harus meninggalkan pakaian keseharian, termasuk pakaian kebesaran lainnya, kemudian mengenakan dua helai kain putih yang sederhana (ihram).
Sekilas, ihram tampak hanya sebagai ketentuan berpakaian ritual semata. Padahal, di balik kesederhanaannya tersimpan pelajaran besar tentang hakikat kehidupan seorang mukmin.
Sejak mengenakan ihram, seorang muslim memasuki fase penghambaan secara total. Banyak hal yang sebelumnya halal menjadi haram. Misalnya, larangan menggunakan wewangian, memotong rambut dan kuku, berburu, bahkan bertengkar, berkata-kata kotor, dan melampiaskan hawa nafsu.
Inilah makna totalitas penghambaan. Allah merupakan ghayah, tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidup manusia (Q.S. Adz-Dzariyat: 56).
Selain itu, ihram juga menyampaikan pesan sosial yang sangat kuat, yakni pesan kesetaraan. Semua mengenakan pakaian yang sama. Semua mengucapkan talbiyah yang sama. Bahkan, semua menyuarakan harapan dan doa yang sama menuju Zat Yang Maha Esa, Allah.
Menariknya, pakaian ihram juga mengingatkan manusia pada tujuan akhir perjalanannya. Hal itu tampak pada simbol dua lembar kain putih sederhana yang mengingatkan pada kain kafan, yang menggambarkan bahwa seluruh manusia akan kembali menghadap Allah tanpa membawa kekayaan, gelar akademik, pangkat, maupun pengaruh. Yang menyertai hanyalah amal saleh dan ketakwaan.
Kesadaran spiritual ihram tersebut kemudian melahirkan sikap kerendahan hati, setara, memperbanyak amal kebajikan, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Akhirnya, makna terdalam pakaian ihram adalah kesediaan menanggalkan segala kebanggaan duniawi, kemudian menjadi pribadi yang bertakwa, rendah hati, peduli, dan siap mengabdikan hidupnya demi kemaslahatan dan kebermanfaatan.
Wallahu a’lam.
Dzulhulaifah, 18 Juli 2026


















