Kamis, Juli 16, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Hukum

Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?

Muhammad Busyrol Fuad by Muhammad Busyrol Fuad
01/03/2026
in Hukum
0
0
SHARES
166
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp
Logo SWA Indonesia

Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com

Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.

✨ Jangkauan Nasional ✍️ Personal Branding 🤝 Komunitas Intelektual
Gabung Kolumnis Kirim Naskah Artikel

Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?

Oleh: Muhammad Busyrol Fuad

Di ruang-ruang pemeriksaan dan persidangan, kejahatan luar biasa tidak pernah hadir sebagai istilah konseptual. Ia hadir sebagai ketakutan yang nyata, ancaman yang sistemik, dan trauma yang panjang bagi saksi maupun korban. Korupsi besar melahirkan intimidasi terhadap pelapor. Terorisme menyisakan korban yang kehilangan bukan hanya keluarga, tetapi juga rasa aman. Pelanggaran HAM berat meninggalkan luka kolektif yang melampaui generasi. Dalam praktik, extraordinary crime bukan sekadar kategori hukum—ia adalah realitas yang menuntut perlindungan dan respons negara yang juga luar biasa.

Kejahatan luar biasa

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

Jalin Keakraban Demi Keadilan, Kapolres Batu Sowan ke Kejari Bahas Akselerasi Penanganan Perkara

Jalin Keakraban Demi Keadilan, Kapolres Batu Sowan ke Kejari Bahas Akselerasi Penanganan Perkara

15/07/2026
Abaikan Laporan Yakuza Maneges, Manajemen Icha Chellow Fokus Hadapi Somasi Anisa Bahar

Abaikan Laporan Yakuza Maneges, Manajemen Icha Chellow Fokus Hadapi Somasi Anisa Bahar

15/07/2026
Load More

Sejak awal reformasi, Indonesia merespons ancaman itu melalui arsitektur hukum yang khusus: undang-undang khusus, lembaga khusus, dan mekanisme perlindungan yang tidak ditemukan dalam hukum pidana biasa. Logikanya sederhana: ketika ancaman bersifat sistemik dan terorganisir, pendekatannya pun tidak dapat diseragamkan.

Kini Indonesia memasuki fase baru. KUHP baru telah berlaku penuh, disusul dengan lahirnya KUHAP baru yang merombak desain hukum acara pidana nasional. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Indonesia, hukum pidana materiil dan formil diperbarui secara bersamaan. Momentum ini bukan sekadar pembaruan legislasi, melainkan restrukturisasi menyeluruh terhadap sistem peradilan pidana.

Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: dalam arsitektur yang semakin terintegrasi dan menekankan keseimbangan antara kepastian hukum serta HAM, bagaimana posisi kejahatan luar biasa ditempatkan? Pertanyaan ini tidak berhenti pada perdebatan akademik tentang lex specialis atau politik hukum. Ia menyentuh sesuatu yang lebih konkret: efektivitas perlindungan saksi dan korban serta daya tangkal negara terhadap kejahatan yang terorganisir dan sistemik. Di titik inilah kita perlu bertanya secara jujur: apakah kita sedang memperkuat respons terhadap extraordinary crime, atau justru bergerak dari extra menuju ordinary?

Extraordinary Crime dan Mengapa Diperlakukan Khusus?

Konsep extraordinary crime lahir dari kesadaran bahwa tidak semua kejahatan memiliki derajat yang sama. Ia merujuk pada tindak pidana yang berdampak luas, mengancam stabilitas sistem, dan kerap melibatkan jaringan kekuasaan atau sumber daya signifikan. Korupsi skala besar merusak tata kelola dan kepercayaan publik. Terorisme mengguncang keamanan nasional. Pelanggaran HAM berat mencederai martabat kemanusiaan secara kolektif.

Baca juga: Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

Ciri lainnya adalah kompleksitas pembuktian dan tingginya risiko terhadap saksi dan korban. Dalam banyak perkara, pelaku memiliki akses pada kekuasaan, modal, atau jaringan terorganisir. Tanpa perlindungan yang memadai, saksi enggan bersuara dan korban kesulitan memperoleh keadilan. Karena itu, pendekatan luar biasa bukanlah penyimpangan dari negara hukum, melainkan cara untuk menjaga efektivitasnya.

Dari perspektif perlindungan saksi dan korban, perlakuan khusus adalah kebutuhan konkret. Keberanian pelapor dalam perkara korupsi besar dapat menentukan terbongkarnya jaringan kejahatan. Namun keberanian itu lahir dari keyakinan bahwa negara hadir secara tegas dan konsisten. Jika respons negara melemah atau kehilangan daya kejut, pesan yang sampai kepada publik bisa ambigu.

Dengan demikian, status “luar biasa” tidak semata label. Ia merupakan refleksi dari kesadaran bahwa negara membutuhkan instrumen yang juga luar biasa untuk menjaga integritas sistem hukum dan melindungi warga negara dari ancaman yang bersifat sistemik.

KUHP baru sering dipahami sebagai proyek kodifikasi—menyatukan, merapikan, dan memperbarui hukum pidana nasional agar lebih sistematis dan sesuai dengan perkembangan nilai-nilai modern. Ia membawa semangat keseimbangan: antara kepastian hukum dan keadilan, antara kepentingan negara dan HAM, antara pembalasan dan pemulihan. Dalam banyak aspek, orientasi ini patut diapresiasi sebagai koreksi atas warisan kolonial dan praktik pemidanaan yang kerap terlalu represif.

Namun, kodifikasi bukan sekadar pekerjaan teknis menyusun pasal. Ia adalah pernyataan arah politik hukum. Ketika negara memilih untuk menata ulang arsitektur hukum pidananya, sesungguhnya negara juga sedang menegaskan bagaimana ia memandang kejahatan dan bagaimana ia ingin meresponsnya.

Kejahatan luar biasa

Di titik inilah relevansi diskursus extraordinary crime mengemuka. Selama ini, kejahatan luar biasa ditempatkan dalam rezim khusus—baik melalui undang-undang tersendiri maupun pembentukan lembaga khusus—karena dipandang memiliki karakter yang tidak dapat sepenuhnya ditangani dengan logika hukum pidana umum.

Risiko “Ordinary-isation” dan Implikasinya bagi Perlindungan Saksi dan Korban

Pembaruan hukum pidana pada dasarnya adalah ikhtiar peradaban. Namun setiap pembaruan selalu membawa konsekuensi. Dalam konteks kejahatan luar biasa, konsekuensi yang patut diwaspadai adalah proses yang dapat disebut sebagai ordinary-isation—yakni pergeseran perlakuan dari pendekatan luar biasa menjadi pendekatan yang semakin seragam dan prosedural. Penyeragaman asas serta penguatan prinsip proporsionalitas adalah capaian penting dalam negara hukum. Namun tanpa diferensiasi yang jelas terhadap ancaman sistemik, pendekatan tersebut dapat menciptakan ketimpangan baru—terhadap saksi dan korban.

Dengan berlakunya KUHP dan KUHAP yang baru, titik keseimbangan itu menjadi semakin krusial. Desain hukum acara menentukan bagaimana pembuktian dilakukan, bagaimana perlindungan diberikan, dan seberapa jauh negara mampu menjaga partisipasi publik dalam proses peradilan. Jika reformasi prosedural tidak secara tegas mengakomodasi kebutuhan perlindungan dalam perkara extraordinary crime, maka restrukturisasi sistem pidana berisiko melemahkan daya protektifnya sendiri.

Karena itu, pembaruan hukum pidana tidak boleh dimaknai sebagai normalisasi seluruh jenis kejahatan dalam satu spektrum yang datar. Harmonisasi sistem memang penting, tetapi diferensiasi terhadap ancaman yang menggerogoti sendi negara tetap harus dijaga. Integrasi tidak boleh mengaburkan kekhususan.

Jalan Tengah: Reposisi, Bukan Reduksi

Jalan yang diperlukan bukan reduksi, melainkan reposisi. Kejahatan luar biasa perlu ditempatkan secara proporsional dalam kerangka KUHP dan KUHAP yang baru tanpa kehilangan mekanisme khusus yang menjamin efektivitas penegakan dan perlindungan. Prinsip HAM dan due process of law harus tetap menjadi fondasi, tetapi fondasi itu tidak boleh mengikis ketegasan terhadap kejahatan yang sistemik.

Pada akhirnya, pertanyaan “dari extra ke ordinary?” adalah ujian komitmen politik hukum kita. Apakah pembaruan hukum pidana akan memperkuat kapasitas negara dalam melindungi warga dan menjaga integritas sistem, atau justru mereduksi sensitivitas terhadap ancaman yang tetap luar biasa? Jawabannya akan tercermin bukan hanya dalam rumusan norma, tetapi dalam keberanian negara memastikan bahwa saksi terlindungi, korban dipulihkan, dan kejahatan yang luar biasa tetap diperlakukan secara luar biasa.


Muhammad Busyrol Fuad

Tenaga Ahli Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Tags: ExtraordinaryKejahatan luar biasaKUHP Baru
Muhammad Busyrol Fuad

Muhammad Busyrol Fuad

Tenaga Ahli Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Related Posts

Jalin Keakraban Demi Keadilan, Kapolres Batu Sowan ke Kejari Bahas Akselerasi Penanganan Perkara
Hukum

Jalin Keakraban Demi Keadilan, Kapolres Batu Sowan ke Kejari Bahas Akselerasi Penanganan Perkara

by Mukhamad Munif
15/07/2026
Abaikan Laporan Yakuza Maneges, Manajemen Icha Chellow Fokus Hadapi Somasi Anisa Bahar
Kriminal

Abaikan Laporan Yakuza Maneges, Manajemen Icha Chellow Fokus Hadapi Somasi Anisa Bahar

by Mukhamad Munif
15/07/2026
sidang dugaan Korupsi DJKA
Hukum

Viral! Nama Gus Miftah Disebut dalam Sidang Dugaan Korupsi DJKA, Diduga Terkait Aliran Dana Rp100 Juta

by Imam Hanifah
14/07/2026
Majelis Nasional KAHMI
News

Majelis Nasional KAHMI Desak Presiden Hentikan Rivalitas Antaraparat Penegak Hukum

by Imam Hanifah
13/07/2026
Laporkan Selebgram Icha Chellow dan Mala Agatha Kasus Dugaan Pornografi, Yakuza Maneges Long March ke Mapolresta Malang
Kriminal

Laporkan Selebgram Icha Chellow dan Mala Agatha Kasus Dugaan Pornografi, Yakuza Maneges Long March ke Mapolresta Malang

by Mukhamad Munif
13/07/2026
asal usul uang untuk Raja Juli Antoni
Hukum

KPK Ungkap Asal Usul Uang untuk Raja Juli Antoni, Diduga Berasal dari Potongan Gaji Petani

by Imam Hanifah
11/07/2026
Next Post
Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

POPULAR NEWS

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Keputusan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

15/03/2026
Jurusan sepi peminat di UPN

Pasti Lulus! Ini 15 Jurusan Sepi Peminat di UPN Jatim SNBT 2026

30/03/2026
Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

Pelabuhan Tarebung Diblokade Penumpang! Ada Dugaan Sistem Lelang Terselubung Penjualan Tiket Kendaraan Roda Empat

15/04/2026
Sosok Amithya, Ketua DPRD yang Berani Tolak Program MBG dan Kopdes Merah Putih di Kota Malang

Sosok Amithya, Ketua DPRD yang Berani Tolak Program MBG dan Kopdes Merah Putih di Kota Malang

16/06/2026
Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

14/11/2025

EDITOR'S PICK

Refleksi HUT ke-112 Kota Malang, Suryadi: Pemerintah Kota Harus Perkuat Ekonomi Kreatif

Refleksi HUT ke-112 Kota Malang, Suryadi: Pemerintah Kota Harus Perkuat Ekonomi Kreatif

01/04/2026
Dugaan Bisnis Seragam Rp 1,2 Juta, LIRA Malang Ancam Tempuh Jalur Hukum

Dugaan Bisnis Seragam Rp 1,2 Juta, LIRA Malang Ancam Tempuh Jalur Hukum

30/06/2026
Perilaku Kapolres Ngada Sadis dan Tidak Manusiawi, Publik: Layak Dihukum Mati

Perilaku Kapolres Ngada Sadis dan Tidak Manusiawi, Publik: Layak Dihukum Mati

15/03/2025
Gaji 350 Karyawan RSI Unisma

Finansial Tertekan, RSI Unisma Pangkas Gaji 350 Karyawan hingga 35 Persen

24/06/2026
logo swanews

© 2026 Swa News Indonesia

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan