Minggu, Maret 15, 2026
Swa News
No Result
View All Result
  • Login
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini
No Result
View All Result
Swa News
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Dilema Kebijakan Efisiensi

Agustinus Edy Kristianto by Agustinus Edy Kristianto
17/02/2025
in Ekonomi, Kolom, Opini
0
0
SHARES
102
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Dilema Kebijakan Efisiensi

Oleh: Agustinus Edy Kristianto

Makin ke sini, istilah seputar anggaran makin njelimet. Tempo (13/2/2025) sampai perlu menjelaskan perbedaan antara “efisiensi,” “pemangkasan,” dan “rekonstruksi.” Padahal, belum lama pandemi berlalu, masih terngiang istilah: “refocusing” dan “realokasi.”

Jika kita tengok Inpres 1/2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD 2025, ada istilah “membatasi belanja…,” “mengurangi belanja…,” “memfokuskan alokasi…,” “penyesuaian belanja…” Apa bedanya? Entahlah.

Baca JugaArtikel Terkini Lainnya

Membludak! Pasar Murah Pemkot Malang di Kedungkandang Berlangsung Ricuh Hingga Pagar Rubuh

Membludak! Pasar Murah Pemkot Malang di Kedungkandang Berlangsung Ricuh Hingga Pagar Rubuh

10/03/2026
Oval Lake Citraland Puncak Tidar Dipadati Pengunjung, Bazar Sparkling Ramadhan 2.0 Hadirkan Suasana Hangat Menjelang Berbuka

Oval Lake Citraland Puncak Tidar Dipadati Pengunjung, Bazar Sparkling Ramadhan 2.0 Hadirkan Suasana Hangat Menjelang Berbuka

09/03/2026
Load More

Harusnya efisiensi anggaran juga dibarengi efisiensi istilah. Sudahlah hidup rakyat susah, ditambah pening pula dengan segala macam jargon birokrasi yang mengklaim paling efisien itu.

Efisiensi

Apa poin pentingnya? Justru mungkin malah terlewat.

Birokrasi hemat tentu penting. Saya juga muak, misalnya, melihat pejabat banyak gaya plesir sana-sini pakai anggaran perjadin (perjalanan dinas) APBN. Tapi getir juga hati melihat efisiensi justru berdampak pada berhentinya layanan bagi korban pelanggaran HAM.

Sementara itu, isi Kabinet Merah Putih: 48 menteri, 5 kepala badan, dan 56 wakil menteri! Belum staf-stafnya—staf khusus, staf ahli, penasihat ahli, pembantu staf…

Efisiensi di atas kertas ternyata tak cocok dengan kenyataan.

Padahal, hulu perkara adalah pucuk yang bengkak itu. Ia ibarat kuk yang membebani leher rakyat.

Kuk dalam bahasa Inggris: yoke. Dalam bahasa Ibrani: nir. Dalam bahasa Aramaik: ʿōl. Di bangsa-bangsa Timur, istilah itu kerap digunakan untuk menyebut pajak atau beban berat lain yang ditimpakan penguasa kepada rakyat. Ibarat kerbau yang bekerja keras membajak sawah dengan pemberat di atas lehernya.

Baca juga: Kisah Inspiratif Rudi Valinka: Buzzer Menjadi Staf Khusus Kementerian Komdigi

Mimpi rakyat adalah lahirnya sosok pemimpin yang bisa mengangkat kuk itu dari leher mereka—yakni pemimpin yang hidupnya sederhana. Sebab, semakin sederhana kehidupan penguasa, semakin ringan beban rakyatnya.

Artinya, efisiensi dan pemangkasan dalam angka yang tidak dibarengi teladan hidup sederhana dari para penguasa, keluarga, dan kroninya adalah omong kosong. Penghematan semacam itu hanya akan menjadi penghematan semu yang memicu persoalan lain di kemudian hari.

Pejabat yang belagu dan tak bisa melepaskan gaya hidup mewahnya adalah pangkal masalah. Jika APBN dipangkas, untuk mempertahankan taraf hidupnya, pejabat (beserta keluarga, kroni, dan hulubalangnya) kemungkinan besar akan menjarah ke luar—yang ujung-ujungnya menyusahkan rakyat. Ibarat gajah yang tak lagi mendapat makan di hutan, ia akan turun ke kampung dan berantem dengan warga. Atau bayangkan singa lapar yang dilepas dari kebun binatang—teror bagi rakyat.

Gajah dan singa masih bisa dimaklumi karena bertindak atas naluri bertahan hidup. Tapi pejabat, keluarga, dan kroni yang meneror rakyat hanya karena naluri keserakahan? Itu yang sulit diterima.

Begitulah, kelak mungkin bakal marak cerita pungli-pungli yang makin edan.

Selain debat angka dan istilah penganggaran, saya belum melihat pucuk-pucuk yang bengkak memulai teladan hidup sederhana. Saya tahu beberapa orang yang dulu hidupnya biasa-biasa saja, tapi sejak masuk birokrasi (ada jabatan), gaya hidupnya berubah total. Dulu karaoke keluarga, kini karaoke eksekutif dengan dua sampai tiga LC pula. Dulu LCGC, kini BMW pun dia pilih-pilih tipenya… Ampun!

Tepatlah ledekan orang bahwa mengentaskan kemiskinan di negara ini harus dimulai dari mengentaskan kemiskinan pejabatnya.

Pucuk-pucuk yang bengkak itulah yang tetap makan, cuy! Dan pada akhirnya—meminjam kata Nex Carlos—rakyatlah yang bayar, bayar, bayar!


Agustinus Edy Kristianto

Penggiat Literasi Digital, Kritikus Media Sosial, Investigator.

Tags: Efisiensi anggaranKebijakan efisiensi
Agustinus Edy Kristianto

Agustinus Edy Kristianto

Penggiat Literasi Digital, Kritikus Media Sosial, Investigator

Related Posts

Membludak! Pasar Murah Pemkot Malang di Kedungkandang Berlangsung Ricuh Hingga Pagar Rubuh
Jawa Timur

Membludak! Pasar Murah Pemkot Malang di Kedungkandang Berlangsung Ricuh Hingga Pagar Rubuh

by redaksi swanews
10/03/2026
Oval Lake Citraland Puncak Tidar Dipadati Pengunjung, Bazar Sparkling Ramadhan 2.0 Hadirkan Suasana Hangat Menjelang Berbuka
Wisata dan Kuliner

Oval Lake Citraland Puncak Tidar Dipadati Pengunjung, Bazar Sparkling Ramadhan 2.0 Hadirkan Suasana Hangat Menjelang Berbuka

by redaksi swanews
09/03/2026
Jelang Lebaran, Pasar Santai 8 Perkuat Industri Kreatif Lokal di MCC Malang
UMKM

Jelang Lebaran, Pasar Santai 8 Perkuat Industri Kreatif Lokal di MCC Malang

by redaksi swanews
07/03/2026
Nuzulul Iqra
Agama

Nuzulul Iqra

by Mat Ray
07/03/2026
Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan
Opini

Kritik Klaim Keberhasilan 1 Tahun Yes-Dirham Pimpin Lamongan

by Nu'man Suhadi
03/03/2026
Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?
Hukum

Masa Depan Kejahatan Luar Biasa, Dari Extra ke Ordinary?

by Muhammad Busyrol Fuad
01/03/2026
Next Post
Gonjang-Ganjing Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumenep Dihentikan, Ada Problem Apa?

Gonjang-Ganjing Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumenep Dihentikan, Ada Problem Apa?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

  • Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

    Demo Bagi-Bagi Baju Gratis dan Takjil, Gaya Unik Berbagi ala Pemuda Lowokdoro

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kemenag RI Dituntut Mundur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontroversi Zainal Habib: Menag Tegas Tolak Pelecehan, Rektor UIN Malang Tetap Angkat Plt WR AUPK, Tuai Kritik Dosen Hingga Mahasiswa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Sahur, Dua Motor Vario 125 Digondol Maling di Ciptomulyo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekda Lamongan Bantah Berita Tersangkut OTT KPK Bupati Pekalongan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Swa News Indonesia

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Cepat | Mencerahkan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kerjasama & Iklan
  • Karier
  • Kontak & Alamat

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Jawa Timur
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • UMKM
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Bola
  • Seni dan Budaya
    • Gaya hidup
  • Kesehatan
  • Wisata dan Kuliner
  • Agama
  • Kolom
    • Sastra
    • Opini

© 2026 Swa News Indonesia - Cepat | Mencerahkan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
© Swa News | Cepat dan Mencerahkan