Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News– Ketua DPC Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Malang Raya, Hendri Wijaya, menyampaikan rasa prihatin atas ditutupnya kawasan wisata Gunung Bromo akibat kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla. Ia menegaskan pihaknya mendukung penuh langkah penutupan demi keselamatan bersama.

“Kami dari asosiasi pelaku pariwisata Malang Raya tentu prihatin dengan kondisi yang terjadi di kawasan Bromo yang ditutup karena Karhutla,” ujar Hendri, Kamis (13/8/2026).
Menurut Hendri, dalam situasi darurat seperti ini, faktor keselamatan wisatawan dan masyarakat sekitar harus menjadi pertimbangan nomor satu.
Baca juga: Upaya Lepas Tangan UIN Maliki Malang dalam Kasus Dugaan Skandal Perumahan fiktif
“Yang pertama dan paling penting bagi kami adalah keselamatan. Karena itu, kami menghormati dan mendukung keputusan penutupan kawasan sampai kondisi dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang,” imbuhnya.
Ia menilai, keputusan untuk menutup sementara akses ke Bromo adalah langkah yang tepat. Hal ini untuk mencegah risiko yang lebih besar, baik kepada pengunjung, pelaku wisata, maupun petugas di lapangan.
Di sisi lain, Hendri mengakui bahwa penutupan Bromo membawa konsekuensi ekonomi yang cukup besar. Bromo selama ini dikenal sebagai ikon dan penggerak utama ekosistem pariwisata di Malang Raya.
“Di sisi lain, kami memahami bahwa Bromo merupakan salah satu penggerak utama ekosistem pariwisata Malang Raya. Penutupan tentu memberikan dampak kepada banyak pelaku usaha,” jelasnya.
Dampak tersebut, lanjut Hendri, tidak hanya dirasakan oleh satu sektor. Mulai dari travel agent, hotel dan penginapan, jasa transportasi, restoran, pemandu wisata atau guide, hingga UMKM di sekitar kawasan juga ikut merasakan.
Untuk mendapatkan gambaran yang akurat, ASPPI Malang Raya saat ini sedang mendorong dilakukannya pendataan dampak secara objektif.
“Kami sedang mendorong pendataan agar dampaknya bisa kita ukur secara objektif, bukan berdasarkan asumsi. Data ini penting agar nantinya bisa menjadi bahan koordinasi dengan pemerintah untuk skema bantuan atau pemulihan,” terang Hendri.
Meski Bromo ditutup, Hendri mengimbau masyarakat dan wisatawan agar tidak langsung membatalkan rencana perjalanan ke Malang Raya. Menurutnya, masih banyak destinasi alternatif yang tetap buka dan aman untuk dikunjungi.
“Kami juga ingin menyampaikan kepada wisatawan bahwa penutupan Bromo tidak berarti seluruh Malang Raya berhenti berwisata. Masih terdapat berbagai pilihan destinasi lain yang dapat dikunjungi selama memang dinyatakan aman dan beroperasi,” katanya.
Ia mencontohkan, wisatawan masih bisa memilih wisata alam di Batu, wisata edukasi, agrowisata, hingga wisata kuliner dan belanja UMKM yang ada di Kota Malang dan Kabupaten Malang.
“Pesan kami adalah jangan panik, ikuti informasi resmi dari pihak berwenang, dan mari kita bersama-sama menjaga keselamatan sekaligus keberlangsungan industri pariwisata,” pungkas Hendri.
ASPPI Malang Raya berharap kondisi di Bromo segera pulih dan kawasan dapat dibuka kembali. Sementara itu, kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat diharapkan dapat menjaga roda pariwisata Malang Raya tetap bergerak di tengah situasi ini. (SL)
Penulis: Sholeh
Editor: Mukh. Munif


















