Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Jakarta, Swa News— Content creator Emanuel Bryan yang dikenal melalui akun media sosial @ebemartono akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka. Buntut konten video yang merekam sejumlah usher di ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 tanpa izin (consent) dan memicu gelombang kritik publik, Senin (3/8/2026).

Kasus ini mengemuka setelah salah satu usher GIIAS 2026 meluapkan keberatannya melalui platform Threads. Ia menilai video berjudul ‘cara deketin cewek di pameran’ yang diunggah Bryan melanggar hak privasi, lantaran merekam dan mengajukan pertanyaan personal tanpa persetujuan terlebih dahulu.
Baca juga : Ribuan Batang Rokok Ilegal Diamankan di Perbatasan Kabupaten Malang
Situasi makin memanas ketika korban meminta video tersebut diturunkan (takedown). Bryan sempat menolak dengan dalih merekam di ruang publik, serta menuntut korban membayar kompensasi “biaya produksi” jika ingin konten tersebut dihapus.
Didesak Netizen, Hapus Konten Rekam Usher GIIAS 2026 dan Rilis Klarifikasi
Usai curhatan korban viral dan memicu kecaman luas dari warganet, Bryan akhirnya menghapus seluruh konten terkait rekam Usher GIIAS 2026 di platform media sosialnya dan merilis video klarifikasi permohonan maaf.
Dalam klarifikasinya, Bryan mengakui kesalahannya dan menyatakan tidak seharusnya menuntut biaya produksi kepada pihak yang merasa dirugikan.
“Saya ingin minta maaf atas semua kesalahan yang timbul dari kelakuan saya. Saya tidak membenarkan, saya hanya meminta maaf atas semua pihak yang merasa dirugikan. Saya seharusnya memang tidak mengatakan atas biaya produksi ataupun kata-kata lain yang saya sampaikan,” ujar Bryan dalam permohonan maaf tertulisnya.
Bryan berdalih konten tersebut awalnya dibuat berdasarkan kebiasaannya berinteraksi dengan orang asing untuk melawan rasa canggung (introvert), dengan niat menginspirasi pengikutnya. Kendati demikian, ia berjanji akan membenahi diri dan lebih berhati-hati dalam membuat konten di masa mendatang.
Insiden ini mempertegas batasan etika dalam pembuatan konten di area publik, terutama yang melibatkan pekerja profesional seperti usher atau SPG pameran otomotif. Rekaman yang mengambil ranah personal tanpa izin tetap berpotensi melanggar privasi, sekalipun diambil di tengah keramaian event nasional seperti GIIAS. (ARD)
Penulis : Ardian F. R
Editor: M. Munif

















