Suarakan Gagasan Anda di Swaindonesia.com
Apakah Anda akademisi, praktisi, pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S1, S2 dan S3 atau guru dan siswa? Bagikan opini, analisis, berita maupun artikel lainnya kepada ribuan pembaca kami.
Malang, Swa News – Dugaan kekerasan terhadap seorang siswa di SDN 1 Gadang, Kota Malang, menjadi perhatian publik setelah informasi tersebut ramai beredar di media sosial. Isu yang berkembang memunculkan berbagai spekulasi, mulai dari dugaan siswa tidak dinaikkan kelas hingga adanya narasi mengenai dugaan penyekapan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SDN 1 Gadang maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang terkait kebenaran informasi yang beredar tersebut.
Jurnalis Swa News juga telah mengirimkan permintaan klarifikasi kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana. Namun, hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.
Dugaan tersebut pertama kali ramai setelah diunggah oleh akun bernama Samsul Sampang di grup Facebook KOMUNITAS PEDULI MALANG RAYA (GRUP RESMI). Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan:
“Bantuanya pak admin. Anak aktif sekolah nilai tinggi tp tidak naikk kelas. SD GADANG 1 MALANG. MEMPERLAKUKAN MURIT TIDAK BAIK. SEHINGGA ANAK TIDAK D NAIKIN KELAS. PADAHAL NILAI PALING TINGGI. MOHON YINDAK LANJUTI TERIMA KASIH.”
Selain itu, unggahan tersebut juga menyertakan sebuah poster yang memuat sejumlah dugaan perlakuan yang disebut dialami oleh korban.
Unggahan yang dipublikasikan pada 22 Juli 2026 itu mendapat perhatian luas dari warganet. Hingga saat berita ini disusun, postingan tersebut telah memperoleh 366 tanda suka, 291 komentar, dan 17 kali dibagikan.
Beragam tanggapan muncul dari pengguna media sosial. Sebagian mempertanyakan keputusan sekolah, sementara yang lain meminta agar kebenaran informasi tersebut dipastikan terlebih dahulu sebelum diambil kesimpulan.
Menanggapi isu yang berkembang, Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Suyadi, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima informasi mengenai dugaan tersebut. Namun, ia menegaskan hingga kini kronologi kejadian masih belum diketahui secara utuh.
“Menurut informasi sementara kelihatannya kejadian itu benar adanya, cuman kronologinya kita belum tahu,” ujarnya kepada Swa News, Rabu (22/7/2026).
Suyadi menilai persoalan tersebut harus ditangani secara hati-hati dengan mengedepankan perlindungan terhadap hak-hak anak. Menurutnya, ada sejumlah informasi penting yang perlu diklarifikasi, terutama terkait alasan siswa tersebut tidak naik kelas serta dugaan adanya penyekapan.
“Kalau benar apa alasan anak tersebut tidak naik kelas, pada dalam Kurikulum Merdeka tidak ada anak tidak naik kelas,” imbuhnya.
Ia juga meminta seluruh informasi yang beredar di media sosial diverifikasi agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
“Kita juga harus menelusuri apa benar anak ini disekap, sekapnya bagaimana, lalu dimana sekapnya, kenapa barua disekap, karena setahu saya anak SD disekap itu terlalu ekstrim,” tegasnya.
Menurut Suyadi, apabila dugaan pengurungan terhadap siswa itu benar terjadi, maka peristiwa tersebut berpotensi menjadi pelanggaran terhadap hak anak.
“Tapi kalau benar anak itu dikurung berarti ada pelanggaran hak anak,” pungkasnya.
Di akhir keterangannya, Suyadi juga mengingatkan seluruh kepala sekolah agar setiap bentuk pembinaan maupun pemberian sanksi kepada peserta didik dilakukan secara objektif dan tidak didasarkan pada faktor suka atau tidak suka terhadap siswa.
Hingga saat ini, dugaan kekerasan siswa SDN 1 Gadang masih menunggu penjelasan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Swa News akan terus berupaya memperoleh konfirmasi dari seluruh pihak terkait guna menghadirkan informasi yang berimbang.
Pewarta: MJL
Editor: Imam

















